Ketiga, jangan lupakan hilirisasi agrikultur dan kelautan. Sawit jangan berhenti di CPO, tapi dikembangkan jadi oleokimia dan biofuel. Rumput laut dan hasil perikanan kita punya nilai jual tinggi di industri farmasi dan pangan global. Potensi untuk jadi kekuatan pangan tropis dunia terbuka lebar.
Keempat, ketahanan energi. Ketergantungan pada impor itu risiko besar, apalagi dengan situasi geopolitik yang tak menentu. Pengembangan biofuel sawit, panas bumi, dan cadangan energi strategis adalah langkah penting untuk mandiri.
Dan yang kelima, diplomasi ekonomi global harus agresif. Pasar ekspor industri nasional kita perlu diperluas, tidak hanya ke negara tradisional. Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah adalah pasar baru yang potensial dan perlu dibuka melalui diplomasi perdagangan yang cerdas.
Pada Akhirnya
Semua prasyarat untuk jadi raksasa ekonomi sebenarnya sudah kita pegang: sumber daya alam melimpah, pasar domestik yang luas, dan posisi geopolitik yang strategis. Tinggal bagaimana kita mengintegrasikannya dalam satu strategi besar, mirip semangat "Indonesia Incorporated" tadi.
Dengan cara itu, kita bisa membangun ekonomi yang mandiri, tangguh menghadapi badai krisis global, dan tetap kompetitif. Transformasi ini bukan sekadar pilihan kebijakan biasa. Ini adalah sebuah keharusan strategis untuk menentukan masa depan Indonesia.
AM Hendropriyono.
Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1996-1998).
Artikel Terkait
Cuaca Ekstrem di Bandara Juanda Sebabkan 9 Penerbangan Delay dan 4 Dialihkan
Drone Serang Pangkasan AS-Italia di Kuwait, Fasilitas Hancur tapi Tak Ada Korban
VAR Batalkan Kemenangan Persib, Imbang 1-1 dengan Borneo FC di Samarinda
Tabrakan Minibus dan Truk di Jalur Mudik Garut, Tak Ada Korban Jiwa