Analisis: Gejolak Timur Tengah Bisa Jadi Peluang Industrialisasi Indonesia

- Minggu, 15 Maret 2026 | 12:05 WIB
Analisis: Gejolak Timur Tengah Bisa Jadi Peluang Industrialisasi Indonesia

Mengelola Risiko Geopolitik

Namun begitu, kita tak boleh tutup mata soal risikonya. Konflik di sana kerap mengguncang jalur perdagangan global, terutama rute energi. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, risiko ini harus dikelola.

Caranya? Diversifikasi jalur perdagangan, perkuat logistik nasional, dan kembangkan industri domestik untuk kurangi ketergantungan impor barang strategis. Dengan langkah-langkah itu, gejolak geopolitik tak akan langsung menggoyah fondasi ekonomi kita.

Diplomasi Ekonomi yang Pragmatis

Sumitro juga menekankan, hubungan ekonomi internasional harus pragmatis. Berorientasi pada kepentingan nasional. Kita perlu jaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kawasan Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, Amerika tanpa memihak blok tertentu.

Pendekatan seperti ini memungkinkan kita memetik manfaat dari peluang global, tanpa terjerumus dalam rivalitas geopolitik negara-negara besar.

Jalan Menuju Kedaulatan Industri

Jadi, kalau dibaca dengan saksama, dinamika Timur Tengah justru membuka pintu lebar bagi Indonesia. Energinya bisa menopang industrialisasi kita. Petrodollar-nya bisa jadi sumber pembiayaan. Dan pasarnya bisa menampung ekspor manufaktur kita.

Tapi semua ini cuma jadi peluang kalau negara punya arah pembangunan yang jelas dan konsisten. Di sinilah relevansi pemikiran Soemitronomics terasa. Industrialisasi nasional butuh kombinasi pas: kepemimpinan negara, kemitraan dengan swasta, dan integrasi yang cerdas dengan ekonomi global.

Memang, Timur Tengah diliputi badai geopolitik. Tapi, bagi Indonesia, badai itu juga membawa arus peluang. Dengan strategi yang jitu, kawasan ini bisa jadi batu loncatan untuk mencapai kedaulatan industri dan kemakmuran yang kita idamkan.

AM Hendropriyono.
Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1976-1978).

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar