"Banyak potensi-potensi masyarakat pemuda dan pemudi Kota Bogor yang sangat luar biasa. Apalagi dilihat di bulan suci Ramadan ini aktivitas di Kota Bogor sangat luar biasa," katanya di lokasi.
Strateginya sederhana: alihkan energi muda ke jalur positif, maka keamanan akan lebih terjaga. Tawuran yang kerap jadi momok di bulan puasa bisa ditekan. Efek sampingnya? Perekonomian lokal ikut bergeliat. "Roda perekonomian yang kiranya menjelang sahur itu kadang sepi ini menjadi rame," tambah Rio. Semuanya berjalan beriringan.
Di sisi lain, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengaku agak kaget dengan sambutannya. Ekspektasinya hanya puluhan orang, kenyataannya alun-alun dipenuhi lautan manusia yang datang sendiri tanpa paksaan.
"Pikir saya yang hadir itu puluhan, tapi faktanya antusias warga Bogor, para pemuda-pemudi dengan giat yang cukup positif, mereka datang dengan suka rela dan menyaksikan, menikmati dan bahkan peserta terus bertambah," kata Jenal, sehari setelah acara.
Baginya, ada pelajaran berharga. Menciptakan wadah positif untuk remaja ternyata tak harus mahal. Bisa dengan sistem urunan atau kolektif. Yang penting niat dan sinerginya jalan.
"Harapannya dengan giat ini kami pengkot (Pemerintah Kota) untuk menjadi alternatif ya perkumpulan remaja, pemuda-pemudi terhindar dari giat-giat yang dapat merugikan masyarakat dan pemuda itu sendiri," pungkas Jenal.
Malam itu, Bogor menunjukkan caranya sendiri merayakan Ramadan. Dengan keringat, semangat, dan langkah-langkah kaki yang berirama di aspal. Bukan dengan diam.
Artikel Terkait
Kapolri Bentuk Posko Khusus dan Janjikan Perlindungan Saksi Kasus Penyiraman Aktivis KontraS
Gelombang Mudik Lebaran 2026 Mulai Memadati Stasiun Pasar Senen
BMKG Prediksi Cuaca Relatif Kondusif untuk Awal Mudik Lebaran 2026, Waspada Potensi Hujan di Sejumlah Daerah
Kapolri: Presiden Perintahkan Usut Tuntas Kasus Penyiran Air Keras ke Aktivis KontraS