Abdul Mu'ti sendiri menegaskan satu hal. Olahraga, dalam pandangannya, punya peran ganda. Bukan cuma soal mengejar medali atau torehan angka.
“Melalui olahraga, nilai-nilai disiplin, kerja keras, sportivitas, dan semangat kebersamaan dapat tumbuh dan berkembang dalam diri para murid,” katanya.
Jadi, ada misi pembentukan karakter di sana. Lapangan basket atau lapangan upacara menjadi ruang belajar yang sama pentingnya.
Di sisi lain, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir juga menyambut baik kolaborasi ini. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang urgent.
Ia apresiasi komitmen Kemendikdasmen yang tak hanya fokus pada kecerdasan otak, tapi juga kesehatan jasmani dan rohani anak didik. Baginya, kerja sama ini krusial untuk menyelaraskan pembinaan bakat olahraga. Agar punya arah dan ukuran keberhasilan yang terang.
“Kami melihat kerja sama ini sangat penting karena talenta yang dimiliki anak-anak Indonesia luar biasa potensinya. Dengan sinergi yang kuat, berbagai program pembinaan olahraga pelajar dapat berjalan lebih terarah dan memberikan dampak yang nyata,” ujar Erick.
Pesan dari ruang rapat itu sederhana tapi berat: membangun atlet berprestasi sekaligus membentuk generasi berkarakter. Dua kementerian kini punya pekerjaan rumah bersama. Tinggal eksekusinya.
Artikel Terkait
Gus Ipul Ungkap Gagasan Sekolah Rakyat Tanpa Tes Akademik Berasal dari Presiden Prabowo
Filsuf Jürgen Habermas Tutup Usia di Starnberg pada Usia 96 Tahun
Gubernur Sumbar Dorong Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik untuk Atasi Titik Rawan Kecelakaan
Menteri Perhubungan Prediksi Puncak Arus Mudik 18 Maret 2026