Yang menarik, fasilitas sosial dan umum (fasos-fasum) berukuran kecil pun kini punya peluang untuk disulap jadi taman. "Fasos-fasum yang tidak semuanya harus besar, katakanlah hanya 1.000 meter persegi, sudah kami izinkan diberikan nama," jelasnya.
Kebijakan seperti ini, harapannya, bisa memacu lahirnya lebih banyak lagi ruang hijau. Di sisi lain, partisipasi masyarakat dan mitra swasta juga ikut terdorong. Jadi, ada rasa memiliki bersama.
Pemprov sendiri terus mendorong agar taman-taman kota tak sekadar hijau. Mereka ingin menciptakan ruang publik yang modern, inklusif, dan tentu saja ramah untuk segala usia, terutama keluarga.
Pada akhirnya, target 23-25 taman baru itu bukan cuma soal angka. Pramono berharap langkah ini bisa meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan, yang tak kalah penting, memberi warga Jakarta lebih banyak pilihan untuk bersantai dan berekreasi tanpa harus jauh-jauh. Setidaknya, ada oase baru di tengah beton.
Artikel Terkait
Antrean Motor Pemudik Padati Pelabuhan Ciwandan pada Malam Hari
Arus Mudik Lebaran 2026 Mulai Terasa, Tiket H-4 di Stasiun Gambir Laku 50.000
KPK Tangkap Dua Bupati Terkait Dugaan Pemerasan THR Jelang Lebaran
Chelsea Hadapi Newcastle di Stamford Bridge, Perburuan Poin Penting di Liga Inggris