Bagi Pramono, peran Fatmawati tak bisa dipandang sebelah mata. Dari jahitan tangannyalah, simbol kedaulatan bangsa pertama itu terwujud. “Bendera Merah Putih ini adalah identitas bangsa, identitas nasional yang tertinggi,” tegasnya. Ia menekankan bahwa bendera itu lebih dari sekadar kain, melainkan lambang kedaulatan negara yang sakral.
Di sisi lain, taman ini sendiri punya fungsi ganda. Tak cuma jadi monumen hidup yang sarat sejarah, tapi juga diharapkan menjadi paru-paru kota. Ruang terbuka hijau untuk warga beraktivitas. Kawasan seluas 5,6 hektare ini adalah hasil penggabungan tiga taman sebelumnya: Ayodya, Leuser, dan Langsat. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari jogging track sepanjang 1,2 kilometer, lapangan olahraga, sampai area bersantai.
Harapannya jelas. Pramono ingin taman ini jadi simbol kebanggaan baru ibu kota. Sebuah tempat yang tak hanya asyik buat kongko atau olahraga, tapi juga mampu mengingatkan setiap pengunjung pada jasa besar seorang Fatmawati.
pungkasnya.
Jadi, kalau Anda melintas ke sana, sempatkanlah berhenti sebentar. Lihatlah patung itu. Mungkin, di antara riuh lalu lalang kota, kita bisa sejenak mengingat betapa sejarah bangsa ini juga dirajut dari ketelatenan dan keberanian seorang ibu.
Artikel Terkait
Astra dan Honda Siapkan 1.600 Teknisi dan Posko 24 Jam untuk Mudik Lebaran 2026
Bupati Cilacap dan Sekda Ditahan KPK Usai OTT Dugaan Pemerasan
Menhub Tinjau Arus Mudik di Pantura Cirebon, Soroti Bahaya Mencari Koin di Pinggir Jalan
18 Jamaah Umrah Indonesia Terkatung Usai Kebakaran Hotel di Makkah