Lalu, seperti apa sebenarnya suksesi kepemimpinan di Iran ini? Peristiwa ini bermula dari penunjukan resmi Mojtaba Khamenei oleh Majelis Ahli Iran pada Minggu, 8 Maret 2026. Kursi pemimpin tertinggi itu kosong setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, wafat pada akhir Februari lalu akibat serangan udara yang diklaim dilancarkan oleh AS dan Israel.
Ini adalah momen bersejarah. Sejak Revolusi Islam 1979, belum pernah terjadi peralihan kekuasaan tertinggi secara langsung dari ayah ke anak. Langkah yang monumental, tapi sekaligus menuai badai kontroversi di panggung internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, misalnya, langsung menyatakan penolakannya. Ia dengan keras menyebut penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pilihan yang "tidak dapat diterima". Sikap yang cukup bisa ditebak, mengingat ketegangan antara Washington dan Tehran sudah berlangsung bertahun-tahun.
Sementara dari dalam negeri Iran, dukungan justru datang penuh. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer elite negara itu, menyatakan loyalitasnya tanpa syarat kepada pemimpin baru tersebut. Mereka berjanji akan mengikuti seluruh arahan Mojtaba Khamenei.
Tak cuma itu, IRGC juga menegaskan komitmennya untuk mempertahankan Republik Islam Iran dari segala ancaman eksternal. Sebuah pernyataan yang keras, berani, dan mencerminkan situasi konflik regional yang memang sedang meningkat. Di tengah semua tarik-ulur ini, harapan Indonesia untuk perdamaian terasa seperti sebuah tugas yang amat berat.
Artikel Terkait
Pepe Selamatkan Villarreal dari Kekalahan dengan Gol Dramatis di Injury Time
KontraS: Serangan terhadap Andrie Yunus adalah Marabahaya bagi Demokrasi
AS Tawarkan Hadiah Rp168 Miliar untuk Informasi Penangkapan Petinggi Iran, Termasuk Mojtaba Khamenei
PJT II Pastikan Layanan Air Tetap Optimal Selama Libur Lebaran 2026