Suara ledakan mengguncang langit Yerusalem, Kamis (12/3) itu. Militer Israel, atau IDF, langsung merespons. Mereka mendeteksi adanya rudal-rudal yang diluncurkan dari Iran dan sedang berupaya mencegatnya.
Unggahan resmi IDF di Telegram, yang dilansir media seperti Al Arabiya dan AFP, menyebutkan hal itu dengan jelas. "Beberapa saat yang lalu, IDF mengidentifikasi rudal-rudal yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah negara Israel. Sistem pertahanan sedang beroperasi untuk mencegat ancaman tersebut," begitu bunyi pernyataan mereka.
Di sisi lain, respons dari Teheran tak kalah keras. Lewat siaran televisi pemerintahnya, militer Iran mengklaim telah menargetkan pangkalan udara Palmachim dan Ovda milik Israel. Tak hanya itu, markas besar dinas keamanan Shin Bet juga disebut sebagai sasaran serangan drone mereka.
"Pangkalan udara Palmachim dan Ovda milik rezim Zionis serta markas besar Shin Bet menjadi sasaran drone dari militer Republik Islam Iran," tegas pernyataan itu.
Serangan ini seolah menjadi babak baru yang mencemaskan. Sejak awal Maret, ketegangan sudah memanas. Iran sebelumnya telah menggempur sejumlah pangkalan militer AS dan Israel di kawasan itu, tak lupa juga serangan terhadap negara-negara tetangga. Semua ini dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel ke target di Iran pada bulan lalu.
Nada ancaman pun semakin keras terdengar dari sayap militer Iran, Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi (IRGC). Mereka bersumpah akan membalas tanpa henti.
"Kami akan membuka pintu api bagi mereka dan tidak akan berhenti sampai musuh dikalahkan," janji Pasukan Quds dalam sebuah pernyataan.
Sehari sebelumnya, Rabu (11/3), mereka telah menyampaikan kecaman keras. Serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari itu dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan. Pernyataan itu menegaskan posisi mereka yang tak akan berkompromi.
Artikel Terkait
Petani Sambut Target Swasembada Pangan Prabowo, Harap Ego Sektoral Dikikis
Mantan Wamenaker Noel Akui Terima Rp 3 Miliar dari Pejabat Kemnaker, Bantah Pemerasan
Orang Tua Sebut Daycare Little Aresha Lebih Sadis dari Guantanamo, Polisi Temukan 53 Anak Jadi Korban Kekerasan
Ketua MK: Independensi Hakim Kunci Pulihkan Kepercayaan Publik