Dari geladak kapal induk Charles de Gaulle yang berlabuh di Mediterania, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyuarakan skeptisismenya. Menurutnya, bombardir saja takkan cukup untuk mengubah peta politik Iran. "Anda tidak bisa mencapai perubahan rezim yang besar hanya lewat serangan udara," tegasnya pada Senin (9/3) lalu.
Pernyataan itu jelas merujuk pada serangan gabungan AS-Israel akhir Februari yang memicu ketegangan baru di Timur Tengah. Macron memprediksi fase intens konflik ini masih akan berlanjut. Bisa beberapa hari, atau mungkin malah beberapa minggu ke depan.
Di sisi lain, Prancis dan sekutunya tak hanya berpangku tangan. Mereka sedang menyiapkan sebuah misi khusus. Tujuannya defensif: membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang vital bagi perdagangan global.
"Ini penting banget untuk perdagangan internasional," ujar Macron dalam kesempatan terpisah di Siprus.
Artikel Terkait
BPOM Usut Peredaran Tramadol Ilegal di Jakarta Timur Usai Aksi Warga Lempar Petasan
Menkop Dukung Proyek Fiber Optik 4.600 Km di Jalur KA, Didanai LPDB Rp 47 Miliar
KIP Perintahkan UGM Buka Dokumen Akademik Jokowi, Kecuali Ijazah Asli
Jasa Marga Beri Diskon Tol 30% untuk Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026