Presiden Iran Janji Hentikan Serangan ke Tetangga, Tapi Drone Masih Jatuh di Dubai

- Senin, 09 Maret 2026 | 16:30 WIB
Presiden Iran Janji Hentikan Serangan ke Tetangga, Tapi Drone Masih Jatuh di Dubai
Analisis Situasi

Pernyataan Damai & Serangan Drone: Sinyal Bertolak Belakang dari Iran

Selama seminggu penuh, serangan bertubi-tubi dari jet tempur dan rudal AS-Israel menghantam Iran. Lalu, terjadi hal yang cukup mengejutkan. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, tampil di televisi nasional pada 7 Maret 2026. Dengan nada yang tak biasa, dia menyampaikan permintaan maaf atas nama dirinya dan pemerintahannya kepada negara-negara tetangga yang jadi sasaran serangan Iran sebelumnya. Intinya jelas: Iran berjanji bakal menghentikan serangan terhadap tetangga, kecuali jika mereka diserang lebih dulu dari wilayah negara tersebut.

Namun begitu, pesannya tidak sepenuhnya lunak. Pezeshkian bersikukuh menolak tekanan Amerika. "Kalau ada yang mau rakyat Iran menyerah tanpa syarat," ujarnya dengan keras, "ya, bawa saja keinginan itu ke dalam kubur."

"Jika ada yang ingin rakyat Iran menyerah tanpa syarat, maka keinginan itu hanya bisa dibawa ke dalam kubur."

Sayangnya, janji untuk berhenti menyerang tetangga itu seperti uap di padang pasir. Hampir tak berselang lama dari pidato itu, sebuah drone diduga dari Iran jatuh dan meledak di dekat Bandara Internasional Dubai. Bandara utama Uni Emirat Arab itu sempat ditutup sementara. Menurut sejumlah saksi yang merekam kejadian, objek kecil itu nyaris menghantam Concourse A sebelum akhirnya meledak di luar, menyemburkan asap tebal.

Ini bukan kali pertama sinyal bertentangan muncul dari Tehran. Situasinya memang rumit. Pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei bersama puluhan pejabat tinggi militer dan politik pada akhir Februari, kekuasaan di Iran terlihat kacau. Pezeshkian sendiri hanya menjadi salah satu dari tiga tokoh yang membentuk komite kepemimpinan sementara. Banyak pengamat meragukan apakah komite ini punya kendali penuh, atau justru berbagai institusi di dalam negeri bertindak sendiri-sendiri.

Kekacauan komunikasi internal ini diakui sendiri oleh Pezeshkian. Dalam pidato yang sama, dia menyebut serangan-serangan yang terus terjadi itu akibat koordinasi pemerintah yang buruk. Analisis dari luar punya penilaian serupa: Iran mungkin sudah kehilangan otoritas pusat yang solid.

Lihat saja contohnya. Baru-baru ini, Garda Revolusi yang dulu langsung di bawah Khamenei mengancam akan menutup Selat Hormuz. Tapi, tak lama kemudian, militer reguler Iran muncul di TV menyangkal rencana itu. Mereka bilang, selat itu tetap terbuka. Laporan media AS juga sempat mencuat soal upaya Tehran menghubungi Washington untuk membuka kembali negosiasi. Eh, tidak sampai sehari, lembaga lain di Iran membantahnya dan kembali meneriakkan slogan "tidak akan pernah menyerah".

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Di satu sisi, ada permintaan maaf dan janji penghentian serangan. Di sisi lain, drone masih meluncur dan pernyataan-pernyataan dari dalam negeri saling bersilangan. Tampaknya, peta kekuasaan di Iran pasca-Khamenei masih gelap dan berdarah. Setiap lembaga mungkin sedang tarik-ulur, mencoba menentukan arah negara di tengah tekanan luar yang mencekik. Janji di layar kaca belum tentu jadi kenyataan di lapangan. Dan dunia hanya bisa menunggu, sambil berharap bandara-bandara di kawasan itu aman dari ledakan dadakan berikutnya.

Disusun berdasarkan laporan-laporan media dan pernyataan resmi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar