“Fokus KURMA 2.0 ada tiga: penguatan literasi digital, pengembangan kewirausahaan digital, dan pemberdayaan komunitas lewat teknologi,” imbuhnya.
Ketiga aspek itu, lanjut Irene, relevan banget untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan. “Ini semua demi kenyamanan bersama dan membuka kesempatan seluas-luasnya di era digital,” tegasnya.
Irene meyakini, bagi generasi muda yang melek teknologi, menghasilkan cuan dari rumah itu sangat mungkin. Asal produktif. Soalnya, era digital ini bukan soal lama tidaknya seseorang berbisnis, tapi seberapa yakin dia untuk belajar dan beradaptasi dengan teknologi.
“Kalau seseorang sudah bisa menciptakan digital asset, karyanya itu bisa dibeli berulang kali sama banyak orang. Potensi passive income-nya besar,” ucapnya.
Harapannya, Kuliah Ramadan Mahir Digital ini nggak cuma seremonial belaka. Tapi bisa melahirkan komunitas yang terus berkembang dan saling mendukung dalam membangun usaha di era digital. Peserta didorong untuk berani memulai, bereksperimen, dan memanfaatkan momentum Ramadan untuk merefleksikan tujuan hidup serta karya yang berdampak bagi masyarakat.
Acara KURMA 2.0 sendiri berjalan cukup semarak. Ada rangkaian kegiatan berfaedah seperti sharing session yang bahas business mentality, the power of winning organic marketing, sampai unlock powerful belief before sales. Agenda-agenda menarik ini menyediakan wawasan strategis untuk inovasi dan kolaborasi ke depannya.
Penulis: Intan Kw
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Mobil Listrik Xpeng X9 Jadi Sorotan di Pemakaman Vidi Aldiano
32 WNI yang Dievakuasi dari Iran Dijadwalkan Pulang Hari Ini
Prabowo Soroti Kolusi Pengusaha dan Pejabat sebagai Sumber Kebocoran Negara
Trump Sebut Perang dengan Iran Hanya Ekskursi Jangka Pendek