Namun begitu, Araghchi punya tuntutan lain yang tak kalah keras. Dia mendesak Trump untuk meminta maaf. Maaf kepada rakyat Iran, dan juga kepada kawasan Timur Tengah, atas segala kerusakan dan korban jiwa yang timbul dari konfrontasi ini.
Dia juga mencoba meluruskan soal target serangan rudal Iran baru-baru ini. Menurutnya, serangan itu adalah bentuk pertahanan diri, ditujukan ke basis militer AS di wilayah sekitar, bukan ke negara tetangga.
Pernyataan ini sekaligus menohok klaim Trump yang mengatakan Iran akan segera punya kemampuan serang daratan AS. Faktanya, laporan intelijen AS tahun 2025 sendiri punya cerita berbeda. Mereka menilai Teheran belum punya rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mumpuni. Prediksinya, kemampuan semacam itu baru mungkin tercapai sekitar tahun 2035.
Jadi, di satu sisi ada perang kata-kata tentang suksesi politik. Di sisi lain, ada pertanyaan nyata tentang kemampuan militer dan eskalasi konflik yang sebenarnya. Iran berusaha menunjukkan bahwa mereka punya kendali penuh atas masa depan politik dalam negeri, sekalipun di tengah tekanan dan ancaman dari luar.
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Longsor Brebes Putus Jalan dan Robohkan Sekolah, Pemerintah Provinsi Turun Tangan
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob Saat Mudik Lebaran 2026
Lebih dari 3.000 Huntara di Aceh Timur Sudah Dihuni, Pembangunan Sisanya Dikebut
Oknum Anggota DPRD Kota Serang Dilaporkan Lakukan Pelecehan Seksual di Pandeglang