Yang menarik, meski latarnya kuat di dunia keagamaan, Mojtaba sama sekali tak punya pengalaman memegang jabatan pemerintahan formal. Ia bukan politisi, bukan pejabat terpilih. Ini yang membuat banyak analis penasaran.
Figur di Balik Tirai
Media internasional sering menjulukinya sebagai "the elusive son" – sosok yang misterius. Jarang berpidato, hampir tak ada wawancara publik, dan tak punya manifesto politik yang jelas. Namanya biasanya muncul saat ada pembicaraan soal pemilihan presiden, diduga sebagai "kingmaker" yang punya andil memilih kandidat.
Penampilannya? Hanya di acara resmi negara atau peringatan keagamaan. Terakhir kali ia terlihat publik adalah saat demonstrasi dukungan untuk pemerintah. Menurut kabar, di masa muda ia juga pernah terlibat dalam Perang Iran-Irak sebagai sukarelawan. Beberapa laporan bahkan menyebutkan ia punya koneksi dengan Korps Garda Revolusi, meski tanpa jabatan resmi.
Memimpin di Bawah Ancaman
Mojtaba Khamenei memulai tugasnya di tengah gejolak yang mungkin paling berat dalam beberapa dekade. Dan ancamannya nyata, datang langsung dari Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dengan terang-terangan mengancam di media sosial. "Pemimpin mana pun yang dipilih rezim teror Iran untuk meneruskan rencana penghancuran Israel... akan menjadi target pembunuhan. Siapa pun namanya, di mana pun ia bersembunyi," begitu kira-kira pernyataan kerasnya.
Ancaman itu menggambarkan betapa gentingnya situasi suksesi kali ini. Mojtaba tidak hanya mewarisi kekuasaan, tapi juga posisi yang sangat rentan. Ia langsung ditempatkan di jantung konfrontasi geopolitik yang jauh melampaui batas-batas Iran. Tantangannya sungguh luar biasa.
Artikel Terkait
Longsor Brebes Putus Jalan dan Robohkan Sekolah, Pemerintah Provinsi Turun Tangan
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob Saat Mudik Lebaran 2026
Lebih dari 3.000 Huntara di Aceh Timur Sudah Dihuni, Pembangunan Sisanya Dikebut
Oknum Anggota DPRD Kota Serang Dilaporkan Lakukan Pelecehan Seksual di Pandeglang