Nah, di sinilah poin utamanya. Meski meminta maaf, Presiden Iran itu memberikan peringatan yang sangat tegas. Iran akan terpaksa membalas setiap serangan atau upaya invasi yang diluncurkan musuh dari wilayah negara mana pun, termasuk tetangganya.
"Kalau musuh Iran coba pakai negara lain untuk menyerang kami, kami terpaksa merespons," katanya dalam pernyataan terpisah.
Dia berusaha menjelaskan bahwa respons itu bukan bentuk perselisihan dengan negara yang wilayahnya dipakai. Bukan juga untuk menyakiti rakyatnya. "Kami akan merespons karena kebutuhan," imbuhnya, mencoba memisahkan antara target militer dengan negara tuan rumah.
Sementara itu, dari tubuh Garda Revolusi datang pernyataan yang lebih keras lagi. Juru bicaranya, Ali Mohammad Naini, menyebut pasukannya sanggup bertempur sengit selama enam bulan dalam kecepatan pertempuran saat ini melawan AS dan Israel.
Yang menarik, Naini mengisyaratkan peningkatan kemampuan. Selama ini Iran baru memakai rudal generasi awal. Dalam beberapa hari ke depan, kata dia, rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan akan dikerahkan.
Jadi, permintaan maaf itu ada. Tapi di baliknya, ada pesan siap tempur yang justru lebih nyaring terdengar.
Artikel Terkait
Waspada Bahaya Microsleep saat Mudik, Dokter Ingatkan Risiko Kecelakaan
Mobil Listrik Xpeng X9 Jadi Sorotan di Pemakaman Vidi Aldiano
32 WNI yang Dievakuasi dari Iran Dijadwalkan Pulang Hari Ini
Prabowo Soroti Kolusi Pengusaha dan Pejabat sebagai Sumber Kebocoran Negara