Presiden Iran Minta Maaf atas Serangan ke Tetangga, tapi Siap Balas Jika Diserang

- Minggu, 08 Maret 2026 | 22:15 WIB
Presiden Iran Minta Maaf atas Serangan ke Tetangga, tapi Siap Balas Jika Diserang

Presiden Iran Masoud Pezeshkian punya dua pesan yang saling berkaitan. Di satu sisi, dia secara terbuka meminta maaf. Ya, kepada negara-negara tetangga yang wilayahnya jadi sasaran serangan Iran beberapa waktu lalu. Namun begitu, pesan kedua juga jelas: Iran tak akan tinggal diam jika diserang lewat wilayah negara-negara itu.

Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Minggu (8/3/2026). Dinamika ini muncul sebagai respon atas situasi keamanan kawasan yang terus memanas.

"Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran," ujarnya.

Dia melanjutkan, dewan kepemimpinan telah sepakat untuk menghentikan serangan ke tetangga. "Tidak akan ada rudal yang ditembakkan," tegasnya, "kecuali serangan terhadap Iran justru berasal dari negara-negara tersebut."

Di tengah perang Timur Tengah yang sudah berjalan dua minggu, Pezeshkian bersikukuh negaranya takkan menyerah pada tekanan Israel dan Amerika Serikat.

Peringatan Keras: Respons Akan Datang Jika Diserang

Nah, di sinilah poin utamanya. Meski meminta maaf, Presiden Iran itu memberikan peringatan yang sangat tegas. Iran akan terpaksa membalas setiap serangan atau upaya invasi yang diluncurkan musuh dari wilayah negara mana pun, termasuk tetangganya.

"Kalau musuh Iran coba pakai negara lain untuk menyerang kami, kami terpaksa merespons," katanya dalam pernyataan terpisah.

Dia berusaha menjelaskan bahwa respons itu bukan bentuk perselisihan dengan negara yang wilayahnya dipakai. Bukan juga untuk menyakiti rakyatnya. "Kami akan merespons karena kebutuhan," imbuhnya, mencoba memisahkan antara target militer dengan negara tuan rumah.

Sementara itu, dari tubuh Garda Revolusi datang pernyataan yang lebih keras lagi. Juru bicaranya, Ali Mohammad Naini, menyebut pasukannya sanggup bertempur sengit selama enam bulan dalam kecepatan pertempuran saat ini melawan AS dan Israel.

Yang menarik, Naini mengisyaratkan peningkatan kemampuan. Selama ini Iran baru memakai rudal generasi awal. Dalam beberapa hari ke depan, kata dia, rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan akan dikerahkan.

Jadi, permintaan maaf itu ada. Tapi di baliknya, ada pesan siap tempur yang justru lebih nyaring terdengar.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar