Yang membuat darah mendidih, pelakunya justru orang yang berpura-pura paling khawatir. Huntley, saat itu berusia 28 tahun dan bekerja sebagai penjaga sekolah, bahkan tampil di media menyatakan keprihatinannya. Sikapnya itu justru menimbulkan kecurigaan polisi. Di persidangan 2003, semua kebohongannya runtuh. Ia dinyatakan bersalah.
Kekasihnya di masa itu, Maxine Carr yang adalah asisten guru di sekolah korban ikut terseret. Perempuan itu memberikan alibi palsu untuk Huntley dan akhirnya harus mendekam karena menghalangi proses peradilan. Kini, dikabarkan Carr hidup dengan identitas baru.
Kasus Huntley membuka kotak Pandora. Ternyata, pria ini punya catatan kelam terkait pemerkosaan dan pelecehan seksual sebelum peristiwa Soham. Fakta mengerikan ini memaksa pemerintah memberlakukan pemeriksaan latar belakang kriminal ketat bagi siapa pun yang ingin bekerja dengan anak-anak. Di penjara pun, hidupnya tak tenang. Ia beberapa kali diserang, dengan insiden terparah terjadi pada 2005 dan 2010.
Kini, setelah kematiannya, penyelidikan kembali bergulir. "Penyelidikan polisi atas keadaan insiden tersebut sedang berlangsung," jelas juru bicara kepolisian. Mereka juga menyatakan bahwa jaksa akan mempertimbangkan tuntutan terhadap pelaku penyerangan terakhir ini.
Sebuah akhir yang kelam untuk seorang pria yang memulai segalanya dengan kejahatan yang lebih kelam lagi.
Artikel Terkait
Juventus Hajar Pisa 4-0, Posisi di Klasemen Tak Bergerak
DPW NasDem Riau Gelar Lomba Azan dan Dai Cilik untuk Semarakkan Ramadan
Borneo FC Hajar Persebaya 5-1, Kepung Persib di Puncak Klasemen
KBRI Tunis Gelar Malam Nuzulul Quran, Serukan Al-Quran Sebagai Elan Peradaban