Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum mau gegabah. Soal wacana pemberian insentif baru untuk kendaraan listrik, ia memilih untuk menahan diri. Lampu hijau belum diberikan, setidaknya untuk saat ini.
Alasannya sederhana tapi berat: perhitungan dampak terhadap defisit anggaran. "Kami hitung berapa dampak ke defisitnya. Harus hati-hati karena sekarang kan banyak tekanan," ujar Purbaya, Jumat (6/3) malam lalu. Ia menyampaikan hal itu dalam acara buka puasa bersama dengan para awak media di kantornya.
Menurutnya, situasi saat ini memang penuh dengan ketidakpastian. Tekanan datang dari berbagai sisi, mulai dari isu BBM hingga potensi gangguan ekspor. Itu semua membuat pemerintah harus ekstra waspada dalam mengambil keputusan, termasuk soal insentif yang notabene berdampak langsung pada penerimaan negara.
Di sisi lain, pembahasan mengenai insentif mobil listrik untuk tahun 2026 sebenarnya sudah dimulai. Kementerian Perindustrian mengaku masih membicarakannya. Padahal, program insentif serupa untuk kendaraan listrik (EV) sebelumnya resmi berakhir di penghujung tahun 2025. Ketiadaan insentif ini tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan industri.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, misalnya, sudah mengingatkan dampaknya. Ia menilai berakhirnya pembebasan bea masuk untuk EV utuh bakal memengaruhi performa penjualan tahun ini. Persoalan ini makin rumit karena infrastruktur pengisian daya di berbagai daerah masih jauh dari kata merata.
"Terlalu dini untuk menyatakan apakah penjualan EV akan naik atau tidak," kata Kukuh pada Januari lalu.
Artikel Terkait
Transjakarta Gelar Festival Rekrutmen, Buka Lowongan untuk Dongkrak Layanan Transportasi
Kapolri Resmikan 57 Jembatan Merah Putih Presisi di Sumsel, Permudah Akses Warga
Gunung Semeru Erupsi, Luncurkan Awan Panas ke Besuk Kobokan
AS Setujui Penjualan Darurat 12.000 Bom ke Israel Senilai Rp2,4 Triliun