Baik UNIFIL maupun Ghana, saat ini, belum secara gamblang menuding pihak mana yang bertanggung jawab. Namun, pasukan internasional itu berjanji akan menyelidiki duduk perkaranya. “Tidak dapat diterima bahwa pasukan penjaga perdamaian yang menjalankan tugas yang diamanatkan Dewan Keamanan (PBB) menjadi sasaran,” tegas mereka. Suara kecaman pun berdatangan.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, secara tegas menyalahkan Israel. Dalam pernyataannya, ia mengutuk serangan yang bahkan telah menyentuh target langsung pasukan PBB.
Dukungan juga datang dari Prancis. Presiden Emmanuel Macron, usai berbicara dengan pemimpin Lebanon dan Suriah, menyebut serangan terhadap UNIFIL sebagai tindakan yang tak bisa dibenarkan.
tulis Macron di platform media sosial. Ia menekankan peran krusial pasukan PBB dalam menjaga stabilitas yang sudah rapuh.
Peran UNIFIL di wilayah itu memang bukan hal sepele. Selama puluhan tahun, mereka menjadi penyangga antara Israel dan Lebanon. Pasca perang 2024 antara Israel dan Hizbullah, mereka juga membantu tentara Lebanon membongkar infrastruktur militer kelompok tersebut di dekat perbatasan. Namun, kehadiran mereka perlahan akan berakhir. Rencananya, seluruh pasukan penjaga perdamaian PBB akan ditarik dari Lebanon pada pertengahan 2027. Sebuah tenggat waktu yang, melihat situasi terkini, terasa makin kompleks untuk dijalani.
Artikel Terkait
Mudik Lebaran dengan Mobil Pribadi: Rincian Biaya yang Perlu Diperhitungkan
Gunung Semeru Erupsi Disertai Awan Panas, Warga Diimbau Jauhi Radius Bahaya
Pemerintah Rilis Tarif Normal Tol Trans Jawa Sebelum Diskon Mudik 2026
Dokter Richard Lee Ditahan Usai Bolos Pemeriksaan Demi Live TikTok