Ia memperingatkan, penggunaan kekuatan militer yang melanggar integritas wilayah suatu negara berpotensi merusak tatanan global. Jika norma internasional terus diabaikan, dunia bisa kembali ke situasi ‘hukum rimba’. Yang kuat menindas yang lemah. Kondisi ini, menurutnya, sangat berbahaya bagi negara berkembang seperti Indonesia, yang sangat bergantung pada stabilitas global untuk pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan.
Dari sudut pandang HAM, Mardiono menegaskan setiap aksi militer yang menimbulkan korban sipil dan menghancurkan infrastruktur publik harus jadi perhatian serius dunia. Hak hidup, rasa aman, dan perlindungan hukum adalah prinsip universal. Tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan politik jangka pendek.
“Kalau pelanggaran prinsip kemanusiaan ini dibiarkan,” katanya, “kredibilitas sistem internasional kita akan terus tergerus.”
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Mardiono melihat peluang. Indonesia bisa mengambil peran konstruktif di tengah eskalasi global ini. Diplomasi harus dikedepankan, jalur komunikasi antarnegara harus tetap terbuka. Reputasi Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, ditambah konsistensi politik luar negeri bebas-aktif, bisa jadi modal berharga.
“Peran kita sebagai jembatan komunikasi sangat dibutuhkan sekarang,” pungkas Mardiono. “Terutama di tengah polarisasi global yang semakin tajam ini.”
Artikel Terkait
Indonesia Ekspor Perdana Beras Premium untuk Jamaah Haji di Arab Saudi
Manchester City Tertahan Imbang Nottingham Forest, Jarak ke Arsenal Tetap 7 Poin
Trump Klaim Posisi AS dan Israel Sangat Kuat di Hari Kelima Perang dengan Iran
5 Alternatif Takjil Sehat untuk Gantikan Gorengan Saat Buka Puasa