Dirgayuza menambahkan, diplomasi zaman sekarang butuh cerita yang inklusif dan mudah dicerna, sesuatu yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Di sisi lain, Komjen Dedi Prasetyo melihat buku ini sebagai bukti sinergi. Sinergi antara kebijakan negara, kekayaan budaya, dan peran institusi seperti Polri.
Gastrodiplomasi, Wajah Baru Diplomasi?
Intinya, 'Rasa Bhayangkara Nusantara' lebih dari sekadar kumpulan 80 resep. Buku ini membawa misi besar: menjelaskan program Makan Bergizi Gratis Polri sebagai prioritas nasional. Dari Eropa, Amerika, Timur Tengah, hingga kini Asia Timur, pesannya terus bergaung.
Pesan itu sederhana tapi kuat: bahwa kebijakan strategis bisa disampaikan lewat budaya, bahwa keamanan dan kemanusiaan bisa berjalan seiring. Gastrodiplomasi, rupanya, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari cara Indonesia bersuara di dunia. Dan langkah kecil di Kedubes Jepang itu adalah buktinya. Sebuah bukti bahwa karya anak bangsa bisa melampaui batas, memperkuat posisi kita dengan cara yang komunikatif dan punya daya pikat sendiri.
Artikel Terkait
Jemaah Iran Menghilang di Tanah Suci, Diduga Terkait Ketegangan Geopolitik
Bayi Dua Hari Ditemukan di Gerobak Nasi Uduk, Disertai Surat Pilu dari Kakak 12 Tahun
Pemerintah dan Tokoh Bali Sepakati Takbiran 2026 Tanpa Pengeras Suara Saat Nyepi
AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Lepas Pantai Sri Lanka, 87 Pelaut Tewas