Dampaknya? Luar biasa. Menurut Sigit, adu tembak antara Iran dan Amerika Serikat-Israel itu berimbas ke mana-mana. Harga minyak dunia merangkak naik, misalnya. Selat Hormuz yang jadi jalur perdagangan minyak pun ikut terdampak, mengguncang negara-negara pengimpor.
Pemerintah, lewat diplomasi, berusaha keras agar semua ini cepat berakhir. Tapi Sigit menegaskan, usaha saja tak cukup. Masyarakat harus siap dan bersatu. "Itu semua bisa terjadi kalau kita semua bersatu menghadapi satu musuh bersama," tegasnya.
Untuk menguatkan argumennya, Sigit mengajak hadirin mengingat masa pandemi COVID-19. Saat itu, situasinya juga suram. Tapi dengan gotong royong, kata dia, Indonesia bisa keluar dari keterpurukan ekonomi yang sempat minus 2%.
Pelajaran dari masa lalu itulah yang dia harap bisa diulang. Menurut Sigit, kunci menghadapi gejolak dunia sekarang ini sederhana: kompak. Seperti dulu, ketika semua elemen bangsa bergandengan tangan. Pesannya jelas, di tengah ancaman krisis global, persatuan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Artikel Terkait
Warga Tangkap Penjambret di Parung Usai Aksi Tarik Tas Bikin Korban Oleng
Anggota DPR Janji Bawa Aspirasi Petani dan Nelayan Sidoarjo ke Paripurna
Jemaah Iran Menghilang di Tanah Suci, Diduga Terkait Ketegangan Geopolitik
Bayi Dua Hari Ditemukan di Gerobak Nasi Uduk, Disertai Surat Pilu dari Kakak 12 Tahun