Di Tengah Dilema Sikap
Waffa Kharisma mengakui, apa pun yang disuarakan Indonesia saat ini kecil kemungkinannya bisa langsung meredakan konflik. Situasinya masih terlalu panas, serangan masih berlangsung.
Di sisi lain, ia mengingatkan soal reputasi Iran di mata internasional yang kerap dikaitkan dengan isu tata kelola domestik. Ini membuat ruang gerak Indonesia jadi terbatas. Dukungan yang terlalu jelas berisiko ditafsirkan sebagai keberpihakan.
Meski begitu, Waffa menekankan, serangan yang menimbulkan korban sipil tetaplah tak bisa dibenarkan. Karena itu, Indonesia tetap perlu menyuarakan kecaman terhadap pelanggaran kemanusiaan.
“Yang paling bisa dilakukan adalah mengutuk agresinya karena tidak beralasan dan dipicu oleh histeria,” tegasnya.
Effendi punya kekhawatiran lain. Jika Indonesia memilih bersikap pasif dan netral, justru ada risiko kehilangan kredibilitas di panggung global.
“Secara geopolitik, Indonesia berisiko kehilangan kredibilitas. AS bisa melihat Indonesia kurang kooperatif, sementara Iran dan mitra BRICS bisa menganggap Indonesia terlalu tunduk pada tekanan Barat,” paparnya.
Maka, ia menyarankan sikap yang terukur dan jelas. Kejelasan posisi bisa membantu Indonesia menjaga daya tawar, termasuk dalam urusan mengamankan pasokan energi dan melindungi ekspor.
“Pada akhirnya, yang paling krusial adalah memastikan Indonesia tetap konsisten pada prinsip bebas aktif, menjaga stabilitas domestik, dan mengamankan kepentingan nasional di tengah pergeseran geopolitik global,” tutup Effendi.
Kilas Balik: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Pemicu dari semua ini adalah serangan AS-Israel ke Teheran pada akhir pekan lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Pemimpin berusia 86 tahun yang berkuasa sejak 1989 itu meninggal bersama sejumlah pejabat tinggi dan anggota keluarganya.
Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di Qatar, Kuwait, UEA, dan Bahrain. Tak lupa, sasaran juga ditujukan ke Tel Aviv.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan menyatakan akan memulai “operasi ofensif paling dahsyat” dalam sejarah mereka. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, ikut bersuara keras.
“Angkatan bersenjata Republik Islam Iran bertindak dengan kekuatan untuk menghancurkan basis-basis musuh, dan mereka akan terus mengambil tindakan serta mengecewakan para musuh, seperti yang selalu mereka lakukan,” tegas Pezeshkian.
Suasana memang sedang tidak mudah. Dan di tengah gejolak itu, Indonesia mencoba mencari peran meski respons yang datang justru penuh dengan pertanyaan dan keraguan.
Artikel Terkait
Warga Tangkap Penjambret di Parung Usai Aksi Tarik Tas Bikin Korban Oleng
Anggota DPR Janji Bawa Aspirasi Petani dan Nelayan Sidoarjo ke Paripurna
Jemaah Iran Menghilang di Tanah Suci, Diduga Terkait Ketegangan Geopolitik
Bayi Dua Hari Ditemukan di Gerobak Nasi Uduk, Disertai Surat Pilu dari Kakak 12 Tahun