DPR Desak Pemerintah Tingkatkan Ketahanan Energi dan Pangan Jelang Eskalasi Timur Tengah

- Rabu, 04 Maret 2026 | 14:20 WIB
DPR Desak Pemerintah Tingkatkan Ketahanan Energi dan Pangan Jelang Eskalasi Timur Tengah

Suasana di Timur Tengah kembali memanas. Usai serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran, gelombang kekhawatiran pun sampai ke Indonesia. Dave Laksono, Wakil Ketua Komisi I DPR, menilai situasi ini harus jadi alarm bagi kita semua. Pemerintah, menurutnya, tak boleh lengah. Pertahanan nasional, mulai dari ekonomi hingga keamanan, harus segera ditingkatkan. Soalnya, kita harus bersiap untuk skenario terburuk.

“Pernyataan pemerintah semalam menunjukkan keseriusan mereka membaca situasi,” ujar Dave, Rabu (4/3/2026).

“Geopolitik sekarang makin ruwet, apalagi dengan eskalasi di Timur Tengah. Ini jelas tanda buat Indonesia buat siaga. Kita harus waspada terhadap segala kemungkinan, terutama dari sisi ekonomi dan keamanan.”

Nah, yang paling mendesak sekarang ini apa? Menurut Dave, dua hal: energi dan pangan. Gangguan pasokan minyak dan gas dunia bisa bikin harga di dalam negeri naik-turun nggak karuan. Rantai distribusi pangan global juga bisa ikut kena imbas. Makanya, menjaga stok dan harga yang terjangkau jadi langkah krusial biar masyarakat nggak terombang-ambing gejolak luar.

Di sisi lain, Dave mendorong agar Indonesia jangan diam saja. Perluas dan perkuat hubungan dagang dengan lebih banyak mitra. “Dengan begitu, kita bisa mengurangi ketergantungan pada kawasan yang sedang berkonflik,” imbuhnya. Tujuannya jelas: agar pertumbuhan ekonomi nasional tetap jalan, meskipun dunia di luar lagi gaduh.

Lalu, soal keamanan nasional juga nggak boleh dilupakan. Politikus dari Fraksi Golkar ini mendesak pemerintah memperhatikan hal ini, mulai dari infrastruktur pertahanan konvensional sampai yang modern seperti keamanan siber. Semuanya perlu ditingkatkan.

“Kita harus siap untuk segala kemungkinan, termasuk skenario terburuk sekalipun,” tegas Dave.

“Tapi, prinsip politik luar negeri bebas aktif dan komitmen pada perdamaian dunia tetap jadi pegangan utama.”

Harapannya, dengan langkah-langkah terpadu, Indonesia bukan cuma bisa menjaga ketahanan dalam negeri, tapi juga ikut mendorong perdamaian di kancah global.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sudah menggelar pertemuan tertutup yang cukup penting. Dia mengumpulkan mantan presiden dan wakil presiden, plus para ketua umum partai politik. Agenda utamanya membahas dinamika geopolitik global yang memanas, termasuk konflik Iran-Israel itu.

Dalam pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3) lalu, pemerintah memastikan Indonesia sudah dalam posisi siaga. Menteri ESDM sekaligus Ketum Golkar, Bahlil Lahadalia, yang hadir dalam pertemuan itu, membenarkan hal tersebut.

“Bapak Presiden menjelaskan berbagai hal terkait perkembangan geopolitik dan kesiapan Indonesia,” kata Bahlil usai pertemuan.

“Khususnya kesiapan kita dalam menghadapi dinamika global, utamanya di sektor energi dan beberapa persoalan lainnya.”

Pertemuan itu seperti jadi sinyal bahwa pemerintah mulai serius menggarisbawahi ancaman yang mungkin merambat ke dalam negeri. Tinggal sekarang, langkah konkret seperti apa yang akan menyusul.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar