Houthi Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb Jika Trump Halangi Perdamaian

- Minggu, 19 April 2026 | 14:15 WIB
Houthi Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb Jika Trump Halangi Perdamaian

Peringatan keras datang dari Sanaa. Hussein al-Ezzi, Wakil Menteri Luar Negeri pemerintahan Houthi, menyatakan kelompoknya siap menutup Selat Bab al-Mandeb. Ancaman itu digantungkan pada satu nama: Donald Trump. Menurut al-Ezzi, langkah ekstrem itu akan diambil jika Presiden AS itu terus menghalangi upaya perdamaian.

Lewat sebuah pernyataan di platform X, yang dikutip Al Jazeera pada Minggu (19/4/2026), nada yang digunakan terkesan dramatis sekaligus menggentarkan.

"Jika Sanaa memutuskan untuk menutup Bab al-Mandeb, maka seluruh umat manusia dan jin akan benar-benar tidak berdaya untuk membukanya,"

Tak berhenti di situ, dia melanjutkan dengan nada menuntut.

"Oleh karena itu, yang terbaik bagi Trump dan dunia yang terlibat adalah segera mengakhiri semua praktik dan kebijakan yang menghalangi perdamaian, dan menunjukkan rasa hormat yang diperlukan untuk hak-hak rakyat dan bangsa kita,"

Ancaman ini jelas bukan main-main. Bayangkan saja, selat yang lebarnya cuma 29 kilometer di titik tersempit itu adalah gerbang vital. Dia menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden, menjadi pintu masuk utama menuju Terusan Suez. Lalu lintas kapal di sana pun terpaksa diatur ketat, cuma dua jalur: satu untuk masuk, satu lagi keluar.

Dampaknya? Bisa kacau. Ini kan salah satu jalur pelayaran paling sibuk di planet ini. Minyak mentah dan bahan bakar lain dari kawasan Teluk menuju Eropa melewati sini. Begitu pula komoditas yang mengalir ke Asia, termasuk minyak dari Rusia. Penutupannya bakal mengguncang pasar global dalam sekejap.

Konteks ancaman ini muncul di tengah situasi yang baru saja mereda di selat lain. Baru pada Jumat lalu, Iran membuka kembali Selat Hormuz. Itu terjadi setelah gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon disepakati. Kabar baik itu langsung disambut pasar. Harga minyak dunia pun terjun bebas.

Namun begitu, suasana tenang itu tampaknya bakal singkat. Trump bersikukuh dengan rencananya untuk memblokade pelabuhan Iran. Syaratnya, harus ada kesepakatan yang mengakhiri perang lebih luas dulu. Respon Iran pun sudah siap: mereka akan menutup Selat Hormuz kembali jika tekanan terus berlanjut.

Jadi, kini ada dua selat strategis yang jadi bahan tarik-ulur. Bab al-Mandeb di ujung selatan Yaman, dan Hormuz di Teluk Persia. Keduanya seperti sekering yang siap menyulut krisis baru, tergantung pada langkah politik yang diambil di hari-hari mendatang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar