Jakarta Miliki 3.500 Bioskop, Wagub Rano Karno Sebut Indonesia Jadi Anomali di Tengah Tren Penurunan Global

- Minggu, 07 Juni 2026 | 13:35 WIB
Jakarta Miliki 3.500 Bioskop, Wagub Rano Karno Sebut Indonesia Jadi Anomali di Tengah Tren Penurunan Global

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan adanya fenomena anomali dalam industri bioskop di Indonesia yang justru bertolak belakang dengan tren global. Di tengah menurunnya jumlah penonton dan bioskop di berbagai negara, Indonesia justru masih memiliki ribuan gedung bioskop yang aktif beroperasi, khususnya di Jakarta.

“Inilah yang membuat Indonesia menjadi anomali, teman-teman sekalian. Di dunia, terjadi penurunan jumlah penonton di bioskop,” ujar Rano dalam acara penayangan film yang digelar oleh Kulturanesia dalam rangka memperingati bulan Bung Karno di Metropole XXI, Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Untuk memperkuat pernyataannya, Rano membandingkan kondisi bioskop di Jakarta dengan Hong Kong. Menurutnya, jumlah bioskop di Hong Kong saat ini hanya tersisa 25 gedung. Angka itu jauh berbeda dengan Jakarta yang masih memiliki sekitar 3.500 bioskop.

“Kemarin tim Jakarta berangkat ke Hong Kong untuk market. Di Hong Kong itu bioskop tinggal 25, cuma 25 lagi, gedung bioskop. Jakarta masih dengan 3.500,” ungkapnya.

Fenomena ini, menurut Rano, justru menarik perhatian para pelaku industri film global. “Ini menjadi anomali. Tiba-tiba banyak sekali investor, produser, sineas dunia yang datang ke Indonesia, terutama ke Jakarta untuk membuat sesuatu,” tambahnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempersiapkan pembentukan Jakarta Film Commission. Lembaga ini nantinya akan memberikan subsidi dan berbagai dukungan bagi para sineas lokal. Rano menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh inisiatif tersebut.

“Untuk itu tentu saya sebagai wakil gubernur akan men-support. Apabila nanti Jakarta Film Commission sudah terbentuk, kita akan banyak memberikan apa ya, semacam subsidi atau fasilitas-fasilitas agar sineas Indonesia bisa memproduksi lagi,” sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPP PDIP itu juga menyoroti pandangan Presiden Soekarno terhadap seni dan film. Menurutnya, Bung Karno tidak memandang film sekadar sebagai hiburan semata, melainkan sebagai bagian penting dari perjuangan kebudayaan. Hal inilah yang menjadi alasan pemutaran film dipilih sebagai bagian dari peringatan bulan Bung Karno.

“Tentu di sini yaitu bagaimana relevansi pemikiran Bung Karno. Bung Karno memandang seni dan film bukan sekadar hiburan,” ungkapnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar