Sudah lebih dari tiga hari konflik bersenjata berkecamuk di Timur Tengah. Getarannya mulai terasa hingga ke Indonesia, membawa bayang-bayang kelam: krisis energi. Pemicunya adalah perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Nah, situasi jadi makin runyam karena Iran memutuskan menutup Selat Hormuz. Langkah itu diambil oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai jawaban atas ancaman kapal induk AS yang berpatroli di kawasan itu. Ancaman mereka keras: kapal apa pun yang nekat melintas akan diserang dan dibakar. AS dan Israel mungkin yang berulah, tapi konsekuensinya bakal ditanggung dunia.
Ini masalah besar. Coba bayangkan, hampir 20% minyak dunia sekitar 20 juta barel tiap hari plus sebagian besar LNG, harus melewati selat sempit itu. Begitu jalur vital ini macet, goncangan di pasar energi global hampir pasti tak terhindarkan. Krisis besar mengintai.
Buat kita di Indonesia, imbasnya bisa langsung ke kantong. Harga BBM diprediksi bakal melambung dalam waktu dekat. Dan seperti biasa, kalau BBM naik, harga sembako serta barang-barang pokok lain pasti ikut merangkak naik. Inflasi? Hanya soal waktu.
Inflasi akibat krisis energi ini ibarat batu dilempar ke kolam. Riaknya menyebar ke mana-mana. Tak cuma di pasar modern atau industri besar, tapi merambat sampai ke warung-warung kecil di pelosok desa.
Ujung-ujungnya, daya beli masyarakat yang terpukul. Pendapatan stagnan, sementara harga-harga melonjak. Isi dompet makin menipis, konsumsi rumah tangga yang jadi tulang punggung ekonomi bisa ambrol.
Sebenarnya, ini bukan kejutan yang tiba-tiba. Sejak pertengahan Februari lalu, alarm sudah berbunyi. Saat itu, IRGC sempat menutup Selat Hormuz langkah yang melanggar Pasal 38 dan 44 UNCLOS 1982. Prinsipnya, selat internasional seperti ini harus tetap terbuka untuk lintas transit, bahkan dalam situasi perang sekalipun.
Artikel Terkait
Macet Parah Landa Jalan Raya Bogor hingga Akses UI Depok Pagi Ini
IHSG Terperosok 43 Poin, Ketegangan Timur Tengah Tekan Pasar
IHSG Anjlok 185 Poin, Tertekan Gejolak Pasar Global
Habiburokhman Tantang Adian Napitupulu Debat Rekan Satu Partai Soal Anggaran Makan Bergizi Gratis