Sejak serangan AS dan Israel melanda wilayahnya, Iran mengambil langkah tegas: menutup Selat Hormuz. Akibatnya, jalur air vital itu kini berubah jadi zona berbahaya bagi kapal-kapal tanker. Bisa dibilang, kawasan itu terasa "angker" untuk dilintasi.
Penutupan ini terjadi pasca gelombang serangan terkoordinasi yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv akhir pekan lalu. Sasaran serangan itu mencakup Teheran dan sejumlah wilayah lain di Iran.
Nah, penting untuk diingat betapa strategisnya selat ini. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia bergantung di sini. Belum lagi ekspor gas alam cair dari Qatar dan UEA yang volumenya sangat signifikan. Setiap hari, kurang lebih 20 juta barel minyak atau 20% konsumsi global mengalir melalui koridor sempit ini. Jadi, dampak penutuannya jelas luar biasa.
Di sisi lain, Iran tak tinggal diam. Mereka mulai menyerang kapal tanker yang dianggap melintas secara ilegal. Aksi balasan ini merupakan respons atas serangan besar-besaran Sabtu lalu, yang diklaim menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin tertinggi mereka.
Menurut sejumlah laporan, serangan balasan Teheran menggunakan drone dan rudal telah menyasar Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Situasinya makin panas, dan ketegangan di Timur Tengah pun melonjak drastis.
Artikel Terkait
Port Vale Lolos ke Putaran Kelima Piala FA Usai Singkirkan Bristol City
4 Maret dalam Catatan Sejarah: Dari Penobatan Frederick I hingga Berdirinya Batavia
DPR Desak Pemerintah Lindungi PMI di Timur Tengah yang Memanas
OJK Uji Coba Produk Investasi Mirip Reksa Dana untuk Aset Kripto