Dengan posisi rentan seperti ini, kenaikan harga minyak dunia otomatis jadi pukulan telak bagi APBN. Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 cuma sekitar 70 dolar AS per barel. Kalau harga melambung, konsekuensinya bisa parah.
“Kalau tembus 100 dolar, 150 dolar, defisit kita ratusan triliun. Ini yang langsung. Karena disruption pasokan energi akibat perang di Timur Tengah itu,” tegas SBY.
Dia melanjutkan dengan nada prihatin. Beban ratusan triliun rupiah itu akan sangat menekan APBN. Ruang fiskal pemerintah, menurutnya, tidaklah lebar. Utang yang sudah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir memperburuk keadaan.
“Oleh karena itu, kalau ada perubahan asumsi dalam APBN tahun berjalan 2026, maka akan terpukul,” lanjutnya.
Di sisi lain, SBY juga menyoroti dilema kebijakan yang bakal dihadapi pemerintah. Pilihannya sulit. Di satu sisi, menambah subsidi energi secara besar-besaran berisiko menjebol APBN.
Tapi pilihan sebaliknya juga berat.
“Pemerintah barangkali bagaimana ini? Mau dikasih subsidi habis-habisan jebol. Tapi kalau nggak, kalau gitu harga BBM kita naikkan, harga gas kita naikkan, siap tidak kita?” tanyanya retoris.
Artinya, daya beli masyarakat bisa tertekan jika harga energi dalam negeri ikut naik. Sebuah situasi yang serba salah, dan semua bermula dari gejolak ribuan kilometer jauhnya di Timur Tengah.
Artikel Terkait
Sultan Cirebon Minta Dukungan Revitalisasi Keraton Kasepuhan ke Kemendikbud
ASDP Siapkan Strategi Penyebaran dan Diskon untuk Antisipasi Lonjakan Mudik Lebaran 2026
Presiden Prabowo Ngabuburit ke Museum Nasional, Apresiasi Revitalisasi Warisan Budaya
Menteri PUPR Targetkan Pembangunan Tol Sicincin-Bukittinggi Dimulai Oktober 2026