Koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di Teheran, Riyadh, Doha, dan Abu Dhabi pun digencarkan. Semua ini untuk menyinkronkan data dan menyiapkan rencana cadangan. Bahkan, simulasi evakuasi dan opsi menghentikan sementara penempatan ke wilayah berbahaya sudah dipersiapkan. Ini murni langkah preventif, jika eskalasi ternyata tak terbendung.
tegas Mukhtarudin lagi.
Tak cuma itu, KP2MI juga memperketat pengawasan untuk mencegah penempatan pekerja secara ilegal yang bisa memanfaatkan situasi krisis. Patroli di dunia maya dan penguatan literasi digital digalakkan, guna mencegah penyebaran informasi yang belum terverifikasi yang hanya akan memicu kepanikan tanpa perlu.
Pesan terakhir dari pemerintah cukup jelas: para pekerja migran Indonesia di Timur Tengah diharap tetap tenang. Ikuti arahan resmi dari Perwakilan RI, dan segera laporkan kondisi darurat lewat kanal resmi yang tersedia. Pemerintah berjanji setiap laporan akan ditindaklanjuti dengan pendampingan dan advokasi. Hak-hak mereka harus tetap terjaga, di tengah gelombang ketegangan geopolitik global yang kadang tak terduga arahnya.
Artikel Terkait
Jenazah Tertahan Pemakaman di Sampang Lantaran Utang Rp 215 Juta
Penata Rambut BLACKPINK Ungkap Dedikasi Rose Pertahankan Rambut Pirang Selama 7 Tahun
BPOM Serang Temukan Formalin dan Pewarna Tekstil pada Jajanan Pasar Rau
Prancis Kerahkan Jet Rafale ke UEA untuk Amankan Pangkalan dari Ancaman Drone