Permintaan untuk menahan diri disampaikan dengan nada mendesak. Sugiono meminta semua pihak tidak hanya berhenti pada de-eskalasi, tetapi juga kembali ke jalur diplomasi. Menurutnya, jalan dialog adalah satu-satunya opsi yang realistis untuk mengembalikan stabilitas di kawasan yang sudah terlalu lama dilanda ketegangan. Penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, ia tekankan, harus jadi pedoman utama.
Sebenarnya, langkah ini bukan hal yang sama sekali baru. Sebelumnya, Kemlu RI sudah menyiratkan kesiapan yang lebih tinggi. Pemerintah Indonesia, melalui Presiden Prabowo Subianto, bahkan menyatakan kesanggupan untuk terjun langsung sebagai mediator. Tidak tanggung-tanggung, Prabowo disebut siap terbang ke Teheran tentu saja jika para pihak yang berseteru, termasuk AS dan Israel, menyetujuinya.
"Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," begitu pernyataan resmi Kemlu beberapa waktu lalu.
Jadi, dari sekadar pernyataan hingga tawaran mediasi langsung, upaya Indonesia terlihat cukup serius. Mereka ingin berada di garis depan upaya perdamaian, mencoba menjembatani celah yang kian melebar. Tantangannya tentu berat, namun tawaran itu setidaknya telah diajukan.
Artikel Terkait
Korlantas Gelar Simulasi Taktik Antisipasi Arus Mudik Lebaran 2026
Pertemuan Prabowo di Istana, Megawati Berhalangan Hadir
BI Jateng Siapkan Rp26,32 Triliun Uang Baru untuk Lebaran 2026
Ibu 20 Tahun Buang Bayi ke Tempat Sampah Usai Lahir Sendiri di Pademangan