Medvedev lalu mengingatkan satu hal yang mungkin dianggap krusial. Almarhum Ayatollah, kata dia, adalah figur spiritual bagi hampir 300 juta penganut Syiah. Kini, dia juga telah menjadi martir. "Anda bisa bayangkan akibatnya. Dan sekarang, tidak diragukan lagi Iran akan mengejar pembuatan senjata nuklir dengan energi berlipat ganda," tambahnya.
Hubungan Rusia dan Iran sendiri memang erat. Tehran disebut memasok drone untuk operasi militer Rusia di Ukraina – sebuah konflik yang sudah berlarut-larut selama empat tahun, jauh dari rencana awal yang hanya tiga hari.
Merespon serangan ke Iran, Kremlin menyebutnya sebagai aksi agresi bersenjata yang terencana dan tanpa provokasi terhadap negara berdaulat. Mereka juga memperingatkan risiko bencana: mulai dari kemanusiaan, ekonomi, hingga yang bersifat radiologis. Intinya, Timur Tengah bisa terjerumus ke dalam eskalasi yang sama sekali tak terkendali.
Rusia sepertinya paham betul soal perang. Mereka menunjukkan bahwa memulai perang itu mudah, tapi mengakhirinya? Itu soal lain. Syarat-syaratnya pun tak pernah pasti.
Mengingat Trump disebut telah 'menyingkirkan' dua kepala negara dalam waktu singkat, Medvedev juga ditanya kemungkinan AS mencoba hal serupa pada Putin.
Jawabannya singkat dan sinis. "Tidak ada obat untuk tindakan orang idiot dan omong kosong," ucapnya.
Lalu dia menutup dengan ancaman yang gamblang. "Hanya ada satu jaminan: AS takut pada Rusia dan tahu harga konflik nuklir. Jika itu terjadi, Hiroshima dan Nagasaki akan tampak seperti permainan anak-anak di taman bermain."
Peringatan yang disampaikan bukan main-main. Nuansa perang dingin seakan kembali menghantui, hanya kali ini dengan kata-kata yang lebih panas dan langsung.
Artikel Terkait
MUI dan PGI Desak Pemerintah Keluar dari Board of Peace Usai Serangan AS-Israel ke Iran
44.500 Penerima Bantuan Kesehatan Nasional Kembali Aktif Usai Pemutakhiran Data
Pelatih Persib Pilih Bungkam Soal Wasit Usai Imbang Lawan Persebaya
BMKG Waspadakan Bibit Siklon Tropis 90S, Picu Hujan Lebat hingga 8 Maret