Sementara itu, federasi lain juga punya fokus masing-masing. FN Pordasi Pacu, misalnya, bertekad menghidupkan industri peternakan dan ekonomi kerakyatan. Lihat saja euforia di Takengon, Aceh Tengah, saat PON XXI. Sekitar 120.000 penonton memadati lokasi pacuan kuda, sebuah bukti antusiasme yang luar biasa.
Lalu, bagaimana dengan FN Pordasi Equestrian? Fokus mereka adalah memperkuat sistem pembinaan dan profesionalisme organisasi. Saat ini, sudah ada 13 Pengurus Provinsi yang aktif menjalankan program. Ketua Umumnya, Dewi Larasati, menekankan satu hal penting.
“Di dalam olahraga ini, manusia dan kuda, dua-duanya adalah atlet. Jadi keduanya harus dipersiapkan secara maksimal melalui latihan yang intensif dan berkelanjutan,” ujar Dewi.
Tak ketinggalan, FN Pordasi Polo Indonesia. Komitmen mereka lebih luas lagi. Tak cuma berorientasi pada prestasi, tapi juga membangun ekosistem menyeluruh. Mulai dari pembinaan atlet, penguatan kualitas kuda lokal, sampai pengembangan industri pendukung yang terintegrasi dengan pariwisata.
Semua langkah ini adalah bagian dari transformasi besar Pordasi. Setelah Munas XIV pada November 2024 lalu, struktur organisasi mereka berubah. Kini, dengan empat federasi nasional yang saling terkait, mereka fokus membangun ekosistem yang benar-benar berkesinambungan. Jalan masih panjang, tapi langkah awalnya sudah terlihat.
Artikel Terkait
Iran Balas Serangan AS-Israel dengan Rudal dan Drone, Negara Teluk Siaga
Persebaya Bangkit Tahan Imbang Persib di Laga Sengit BRI Liga 1
Qatar Tembak Jatuh Pesawat Iran dan Hentikan Produksi LNG di Tengah Eskalasi
Dubes Iran Desak D-8 Kutuk Serangan AS-Israel Jelang KTT di Jakarta