Menurutnya, komitmen ini bukan sekadar wacana. Pramono bercerita bahwa berbagai kegiatan kebudayaan, bahkan acara seremonial di Balai Kota, kini sudah banyak yang mengangkat unsur Betawi. Tujuannya satu: mewujudkan roh tadi dalam keseharian.
"Udah nggak ada lagi yang pakai jas, ujung serong, kebaya betawi, kebaya encim, dan sebagainya," jelasnya sambil menyebut beberapa contoh perubahan yang ia maksud.
Baginya, semua upaya ini punya alasan yang jelas. Pramono merasa urusan Betawi tak boleh berhenti di atas kertas atau jadi sekadar teks belaka. Ia ingin semuanya nyata, bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh warganya.
"Kenapa ini saya lakukan? Bagi saya pribadi, urusan kebetawian itu tidak hanya sekadar teks atau naskah, tetapi bagaimana realita di lapangan itu bisa dilakukan," pungkasnya.
Nampak jelas, bagi sang Gubernur, menghidupkan roh Betawi adalah sebuah tindakan, bukan hanya pernyataan.
Artikel Terkait
Trump Buka Kemungkinan Kirim Pasukan Darat ke Iran Jika Terpilih Kembali
Mentan Perketat Koordinasi BRMP untuk Pacu Kemandirian Pangan di Papua
Ayatollah Alireza Arafi Ditunjuk Masuk Dewan Kepemimpinan Sementara Iran
Dubes Iran Kecam Serangan AS-Israel Hancurkan Rumah Sakit dan Sekolah di Ramadan