AS dan Israel Luncurkan Serangan Besar, Desak Rakyat Iran Gulingkan Rezim

- Minggu, 01 Maret 2026 | 01:15 WIB
AS dan Israel Luncurkan Serangan Besar, Desak Rakyat Iran Gulingkan Rezim

Teheran – Ledakan mengguncang beberapa kota di Iran pagi ini. Tak lama setelahnya, Presiden AS Donald Trump muncul dengan pernyataan keras. AS, bersama Israel, katanya telah memulai sebuah "operasi tempur besar-besaran" di negara itu. Tujuannya jelas: menggulingkan rezim yang mereka sebut teroris.

Dalam sebuah video yang dirilisnya, Trump tak hanya mengumumkan serangan. Dia juga secara terbuka mendesak warga Iran untuk memberontak. "Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi," serunya. Pesannya lugas: manfaatkan kekacauan ini, gulingkan kelompok ulama yang berkuasa. "Ambil alihlah pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian," tambah Trump.

Dia juga mengeluarkan ancaman sekaligus iming-iming kepada pasukan keamanan Iran. Letakkan senjata, dapatkan "imunitas". Pilih bertempur, maka yang menunggu adalah "kematian yang pasti".

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyuarakan hal serupa. Menurutnya, operasi gabungan ini bertujuan menyingkirkan tirani di Teheran.

"Waktunya telah tiba bagi seluruh kelompok masyarakat Iran, bangsa Persia, Kurdi, Azeri, Baluchi, dan Ahwazi untuk melepaskan diri dari belenggu tirani," kata Netanyahu.

Namun begitu, pemerintah Iran sepertinya sudah mengendus rencana ini. Lewat Kementerian Luar Negeri, mereka mengaku tahu "niat" AS dan Israel. Yang menarik, meski serangan datang, Teheran menyebut tetap ingin melanjutkan jalur diplomasi. Pernyataan mereka mengakui serangan ini terjadi justru di tengah proses negosiasi yang berjalan.

Memang, hubungan keduanya sedang dalam fase rumit. Putaran ketiga pembicaraan nuklir tak langsung baru saja digelar dua hari lalu di Jenewa, Swiss. Hasilnya? Nihil. Sebelumnya, di Mei 2025, lima putaran perundingan juga mentok. Rencana putaran keenam pada Juni 2025 malah batal total setelah Israel menyerang target Iran, memicu konflik 12 hari yang melibatkan AS.

Dentuman di Berbagai Kota

Semuanya berawal sekitar pukul 09:30 waktu setempat. Kantor berita Fars melaporkan ledakan keras terdengar di Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, dan tentu saja ibu kota Teheran. Foto-foto yang beredar menunjukkan kepulan asap membubung di alun-alun utama kota. Jumlah korban? Belum ada kejelasan. Yang pasti, wilayah udara Iran langsung ditutup total.

Serangan itu tak dibiarkan begitu saja. Iran membalas.

Militer Israel (IDF) dengan cepat mengonfirmasi deteksi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah mereka. Sirene peringatan meraung di berbagai kota, termasuk Haifa. Warga diperintahkan untuk tidak berkumpul dan menghindari sekolah serta tempat kerja. Media Israel melaporkan penutupan wilayah udaranya untuk penerbangan sipil.

Hebohnya, serangan juga dilaporkan terjadi di tempat lain. Kantor berita Bahrain menyebut pusat layanan Armada ke-5 Angkatan Laut AS di sana "mengalami serangan rudal". Situasi makin panas.

Pidato Trump dan Ambisi Nuklir

Kembali ke Trump. Dalam pidato videonya, dia membenarkan serangan AS ke fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan sebuah operasi yang dijuluki "Midnight Hammer". Alasannya klasik: Iran tidak boleh punya senjata nuklir.

Trump menuduh Iran keras kepala. Menolak semua peluang damai, terus kembangkan rudal jarak jauh yang mengancam sekutu AS dan bahkan daratan Amerika. "Kami akan menghancurkan industri rudal Iran sampai ke tanah," tegasnya. Angkatan laut Iran pun, katanya, akan "dibinasakan".

Dia menyebut rezim Iran telah meneriakkan "Kematian bagi Amerika" selama 47 tahun. Meski mengakui operasi ini bisa memakan korban jiwa dari pihak AS, Trump bersikukuh bahwa inilah saatnya bagi rakyat Iran meraih kebebasan.

Suasana di lapangan masih mencekam. Laporan berkembang, korban jiwa mulai berjatuhan. Artikel ini akan diperbarui seiring dengan informasi yang masuk.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar