Iran Kecam Serangan Rudal di Teheran sebagai Pelanggaran Kedaulatan oleh AS dan Israel

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:05 WIB
Iran Kecam Serangan Rudal di Teheran sebagai Pelanggaran Kedaulatan oleh AS dan Israel

Ledakan mengguncang langit Teheran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Dua dentuman keras, diikuti kepulan asap tebal, menandai dimulainya sebuah serangan yang langsung mengguncang kawasan. Menurut saksi mata di ibu kota Iran itu, suara ledakan terdengar jelas dari wilayah pusat dan timur kota.

Kantor berita Fars, seperti dikutip AFP, melaporkan bahwa pola ledakan itu mengindikasikan serangan rudal. "Jenis ledakan tersebut menunjukkan bahwa ini merupakan serangan rudal," sebut laporan mereka, meski rincian lebih lanjut belum diungkap.

Tak lama setelah kejadian, Kedutaan Besar Iran di Jakarta langsung bersuara keras. Mereka mengecam habis-habisan serangan yang menargetkan lokasi sipil dan infrastruktur vital di Teheran serta sejumlah kota lain. Bagi mereka, ini jelas pelanggaran kedaulatan.

"Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel pada Sabtu pagi itu, dalam suatu tindakan agresi lainnya, telah melanggar integritas teritorial dan kedaulatan nasional Republik Islam Iran," tulis Kedubes dalam pernyataan resminya.

Pernyataan itu terasa berisi amarah yang tertahan. Mereka menyebut aksi tersebut bukan hanya serangan, tapi pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Poinnya jelas: Iran punya hak untuk membela diri, dan hak itu akan digunakan.

"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan menggunakan hak tersebut sepenuhnya," tegasnya, dengan janji memberikan respons yang "tegas dan kuat" terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi dari AS dan Israel.

Di sisi lain, tekanan juga dialihkan ke panggung global. Iran, sebagai negara pendiri PBB, mendesak Dewan Keamanan untuk segera bertindak. Mereka menilai lembaga itu punya tanggung jawab penuh untuk menjaga perdamaian, dan kini saatnya menjalankan mandat tersebut.

Lebih dari sekadar insiden sekali tembak, pernyataan Kedubes menyoroti pola lama. Tindakan Washington dan Tel Aviv, disebutnya, telah menjadi ancaman serius bagi stabilitas regional dan global selama beberapa dekade terakhir. Ancaman yang kini kembali mewujud dalam bentuk rudal.

Tak lupa, seruan juga ditujukan ke Indonesia. Pemerintah dan masyarakat diharapkan ikut bersuara.

"Kedutaan Besar berharap agar Pemerintah dan rakyat Indonesia, para tokoh politik, organisasi keagamaan dan Islam, hingga kalangan akademisi dan media, untuk secara tegas mengecam dimulainya perang dan agresi terhadap wilayah Iran," demikian harapan yang disampaikan.

Suasana pagi itu di Teheran telah berubah. Dari sunyi menjadi riuh oleh sirene dan dentuman. Dan dari sebuah serangan fisik, gelombang kecaman diplomatik pun mulai bergulir, mencari dukungan dan menuntut keadilan di forum internasional.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar