Sebagai bukti keunggulan militer AS, ia merinci salah satu operasi terbaru: Absolute Resolve di Venezuela. Menurut Hegseth, pasukan hanya menghadapi sedikit perlawanan karena sebuah taktik yang sangat presisi.
"Tiga menit sebelum pasukan kami tiba di lokasi, 44 rudal menghantam 44 sasaran berbeda di Karibia. Diluncurkan dari berbagai sistem, semua diatur waktunya agar jatuh persis tiga menit sebelum pasukan mendarat," jelasnya. Itulah, katanya, bentuk pencegahan yang efektif.
"Kalau Anda menantang Amerika Serikat, Anda akan membayar harga yang mahal. Maduro sudah mempelajarinya bulan lalu," ucap Hegseth dengan nada penuh peringatan.
Operasi Absolute Resolve sendiri dilancarkan Washington pada 3 Januari lalu. Tujuannya jelas: menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membawanya ke tahanan AS. Serangan udara besar-besaran diarahkan ke target-target di Venezuela utara, mencakup pertahanan udara dan infrastruktur komunikasi. Sementara itu, pasukan khusus menyusup ke Caracas untuk menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Pemerintahan Trump membingkai operasi ini sebagai penegakan kembali Doktrin Monroe yang menyatakan Amerika sebagai wilayah bebas intervensi Eropa. Mereka juga menyebut alasan pemberantasan perdagangan narkoba dan korupsi. Namun, di saat yang sama, mereka secara terbuka mengaitkannya dengan upaya mengamankan pengaruh atas cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.
Artikel Terkait
Erick Thohir Apresiasi 10 Tahun Kepemimpinan Infantino, Sebut Dampaknya Nyata untuk Indonesia
Ibas Ajak Pesantren Jadi Penggerak Perubahan di Ramadan
BGN Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Tak Kurangi Anggaran Pendidikan
Rumah Anggota DPRD Bogor di Cisarua Nyaris Dibobol Maling Saat Sahur