Menteri Pertahanan AS Peringatkan Lawan Akan Bayar Harga Mahal, Soroti Operasi di Venezuela

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 13:00 WIB
Menteri Pertahanan AS Peringatkan Lawan Akan Bayar Harga Mahal, Soroti Operasi di Venezuela

Hamilton, Kanada Peringatan keras datang dari Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Dalam sebuah acara di Arkansas, Jumat lalu, ia menyampaikan pesan tegas: siapa pun yang berani menantang Washington harus siap menanggung konsekuensi serius. "Mereka akan membayar harga yang mahal," ujarnya tanpa tedeng aling-aling.

Hegseth sedang dalam tur nasional bertajuk "Arsenal of Freedom". Di hadapan audiens, ia menegaskan bahwa tujuan kebijakan pertahanan AS adalah menciptakan efek pencegahan yang luar biasa. "Sampai-sampai calon lawan gemetar hanya dengan memikirkan untuk melawan kami," katanya.

Dunia ini, menurutnya, bukan tempat yang naif. "Alangkah baiknya jika bersikap baik saja sudah cukup untuk membawa perdamaian. Tapi kenyataannya tidak. Kita hidup di dunia yang keras, di mana kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dimengerti semua pihak," tambah Hegseth, dengan nada yang terasa getir namun penuh keyakinan.

Ia lalu menyentuh soal industri pertahanan dalam negeri. Ada nada urgensi dalam pernyataannya. "Kami mengirim sinyal yang jelas dan terus-menerus ke industri Amerika. Kami butuh yang terbaik, dan kami butuh sekarang. Bahkan, sebenarnya kami sudah membutuhkannya sejak kemarin," tegasnya. Baginya, era kelemahan dan terlalu fokus pada isu-isu "kesadaran sosial" atau 'wokeness' harus segera diakhiri.

Tak lupa, Hegseth menyelipkan kritik terhadap kebijakan masa lalu. Menurutnya, beberapa langkah keliru AS telah mempermalukan diri sendiri di mata dunia. "Lihat saja penarikan diri yang kacau dari Afghanistan. Atau perang di Ukraina yang sebenarnya bisa dicegah dan pasti tidak akan terjadi jika Presiden Trump masih menjabat. Begitu pula krisis perbatasan selatan kita. Semua itu sudah berakhir di hari pertama pemerintahan Trump," paparnya.

Sebagai bukti keunggulan militer AS, ia merinci salah satu operasi terbaru: Absolute Resolve di Venezuela. Menurut Hegseth, pasukan hanya menghadapi sedikit perlawanan karena sebuah taktik yang sangat presisi.

"Tiga menit sebelum pasukan kami tiba di lokasi, 44 rudal menghantam 44 sasaran berbeda di Karibia. Diluncurkan dari berbagai sistem, semua diatur waktunya agar jatuh persis tiga menit sebelum pasukan mendarat," jelasnya. Itulah, katanya, bentuk pencegahan yang efektif.

"Kalau Anda menantang Amerika Serikat, Anda akan membayar harga yang mahal. Maduro sudah mempelajarinya bulan lalu," ucap Hegseth dengan nada penuh peringatan.

Operasi Absolute Resolve sendiri dilancarkan Washington pada 3 Januari lalu. Tujuannya jelas: menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membawanya ke tahanan AS. Serangan udara besar-besaran diarahkan ke target-target di Venezuela utara, mencakup pertahanan udara dan infrastruktur komunikasi. Sementara itu, pasukan khusus menyusup ke Caracas untuk menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Pemerintahan Trump membingkai operasi ini sebagai penegakan kembali Doktrin Monroe yang menyatakan Amerika sebagai wilayah bebas intervensi Eropa. Mereka juga menyebut alasan pemberantasan perdagangan narkoba dan korupsi. Namun, di saat yang sama, mereka secara terbuka mengaitkannya dengan upaya mengamankan pengaruh atas cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar