Namun begitu, justru pengalaman pahit itulah yang membentuknya. “Tapi, itu yang membuat saya selalu bersemangat untuk bisa menjaga kepekaan, kepekaan internal kita,” sambung Misbakhun. Menurutnya, puasa harus jadi kekuatan spiritual untuk berbuat lebih baik kepada masyarakat.
Rupanya, kebiasaan berpuasa sudah ditanamkan orang tuanya sejak ia kecil. Bahkan, saat masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar, Misbakhun sudah mulai membiasakan puasa Senin-Kamis.
“Saya berhenti puasa Senin-Kamis itu ketika saya menjadi anggota DPR,” ceritanya.
Alasannya sederhana sekaligus mendalam. “Saya ini merasa diberikan derajat kenikmatan dengan kedudukan dan sebagainya, maka saya menaikkan level puasa saya menjadi puasa Daud. Saya menyadari itu, maka saya puasa Daud.”
Bagi Misbakhun, puasa adalah bentuk kontrol diri, sebuah ‘rem’ untuk tetap berada di jalur yang benar. Ia mengklaim komitmennya kuat. Sejak memulai puasa Daud, ia tak pernah terputus menjalankannya, bahkan saat harus melintasi berbagai negara.
“Ya saya kalau ditanya kapan mulai puasa Daud? Ya sejak saya jadi anggota DPR. Ya sejak itu. Dan Alhamdulillah pengalaman saya puasa Daud itu, saya belum pernah terputus. Saya sudah melintasi lima benua, puasa di semua itu,” imbuhnya penuh keyakinan.
Artikel Terkait
Parade Imlek Nusantara 2026 Ramaikan Jakarta Sore Ini, Catat Rute dan Pengalihan Lalu Lintas
Dishub DKI Terapkan Rekayasa Lalu Lintas untuk Parade Imlek di Lapangan Banteng
Slot Waspadai West Ham yang Terpojok, Liverpool Fokus Raih Tiga Poin
Pemkot Tutup Celah Pagar Taman Cawang untuk Cegah Aktivitas Asusila