Oleh: Lidya Thalia.S
BOGOR – Suasana Bumi Perkemahan Sukamantri, Kamis lalu, terasa berbeda. Bukan sekadar acara seremonial biasa, peringatan HUT ke-34 Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) itu lebih mirip sebuah refleksi kolektif. Sebuah momen untuk menegaskan kembali komitmen menjaga benteng terakhir hutan hujan tropis di Jawa.
Di tengah hawa sejuk Bogor, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyampaikan pesannya. Bagi dia, TNGHS punya peran yang jauh melampaui sekadar kawasan konservasi. “Ini adalah penyangga kehidupan,” tegasnya.
“Kawasan ini adalah rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna, penyangga tata air bagi jutaan masyarakat di Banten dan Jawa Barat, sekaligus laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian,”
Demikian disampaikan Rohmat dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/2/2026).
Memang, kawasan seluas ribuan hektar itu adalah habitat kritis. Elang Jawa, Owa Jawa, Macan Tutul Jawa keberadaan satwa-satwa langka ini ibarat barometer kesehatan hutan. Kalau mereka masih bisa bertahan, artinya ekosistemnya masih cukup baik. Tapi itu semua harus dijaga mati-matian, lewat perlindungan ketat dan penegakan hukum yang tak pandang bulu.
Namun begitu, cerita tentang TNGHS bukan cuma soal satwa dan pohon. Ini juga tentang manusia. Ribuan jiwa menggantungkan hidupnya di sana. Pemerintah kini berusaha mengubah pendekatan. Masyarakat sekitar didorong jadi mitra, bukan lagi pihak yang dianggap mengganggu. Program pemberdayaan ekonomi dan pertanian ramah lingkungan digulirkan, dengan harapan mereka punya kepentingan yang sama untuk melestarikan hutan.
“Masyarakat bukan lagi objek, tetapi mitra strategis,”
Artikel Terkait
Pengemudi Toyota Calya yang Ugal-ugalan di Gunung Sahari Resmi Ditahan, Terancam 7 Tahun Penjara
Polda Metro Jaya Kerahkan Ribuan Personel dengan Pendekatan Humanis untuk Amankan Unjuk Rasa
Ditlantas Jabar Siapkan Motor Senyum untuk Atasi Macet Mudik Lebaran 2026
Buron Bandar Sabu NTB Ko Erwin Ditangkap, Kakinya Tembak saat Melawan