Puan Maharani Desak Percepat Perbaikan Nasib Guru Honorer Lansia

- Selasa, 14 April 2026 | 03:45 WIB
Puan Maharani Desak Percepat Perbaikan Nasib Guru Honorer Lansia

Di ruang-ruang kelas yang sunyi, di pelosok-pelosok negeri, masih banyak guru honorer yang mengabdi puluhan tahun dengan upah yang sangat minim. Itulah realitas pahit yang kembali disorot Ketua DPR Puan Maharani. Ia mendesak semua pihak untuk segera memperbaiki nasib para pendidik ini, terutama yang sudah berusia lanjut dan masa pengabdiannya hampir berakhir.

"Hari ini, kita masih sering menemukan adanya guru honorer lanjut usia, yang bahkan hingga hampir pensiun masih mendapat upah yang jauh di bawah standar,"

kata Puan dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/4/2026).

Bagi Puan, cara sebuah negara memperlakukan gurunya adalah cermin nyata dari kualitas bangsa itu sendiri. Bagaimana mungkin kita bicara soal mutu pendidikan jika pilar utamanya hidup dalam ketidakpastian?

"Kualitas sebuah Negara sering kali terlihat dari bagaimana Negara memperlakukannya mereka yang bekerja paling lama dalam kesunyian,"

tegasnya.

Memang, ada celah yang lebar antara kebutuhan negara akan pengabdian dan kecepatan sistem dalam memberikan kepastian. Fenomena guru honorer lanjut usia dengan gaji kecil itu nyata adanya di berbagai daerah. Mereka sudah mengabdi hampir seumur hidup, tapi penghargaan yang layak seolah tak kunjung datang.

Di sisi lain, Puan tak menutup mata. Ia mengapresiasi langkah pemerintah membuka peluang melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Hanya saja, menurutnya, proses ini harus lebih cepat lagi. Jangan sampai birokrasi justru mengubur harapan.

Masa pengabdian yang panjang, dalam pandangannya, harus jadi pertimbangan utama. Bukan sekadar angka, tapi bukti loyalitas yang konkret.

"Pengabdian panjang seharusnya tidak hanya dihargai sebagai loyalitas moral, tetapi juga diterjemahkan dalam prioritas penyelesaian yang jelas,"

ujar mantan Menko PMK itu.

Intinya sederhana: mustahil membangun mutu pendidikan tanpa fondasi yang kuat. Dan fondasi itu adalah guru-guru yang sejahtera. Tanpa itu, semua wacana peningkatan kualitas hanya akan jadi retorika belaka.

"Maka diharapkan agar peningkatan kesejahteraan bagi guru honorer, khususnya yang telah lama mengabdi bahkan hingga puluhan tahun, harus dipercepat untuk diselesaikan,"

pungkas Puan. Seruannya jelas: saatnya tindakan nyata, bukan lagi janji.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar