Bareskrim Polri, lewat Dit Tipid Siber, baru-baru ini berhasil membongkar jaringan penipuan SMS blast yang mengatasnamakan situs e-tilang resmi. Ternyata, sindikat ini dikendalikan oleh dua orang warga negara China. Pengungkapan ini berawal dari laporan Kejaksaan Agung di akhir tahun 2025 soal maraknya tautan-tautan palsu yang memakai nama instansi pemerintah.
Menanggapi hal ini, Alfons Tanujaya, seorang pengamat keamanan siber dari Vaksincom, mendesak agar penyelidikan diteruskan sampai ke otak permasalahannya. Menurutnya, kejahatan ini jelas terorganisir.
"Mereka sangat piawai menyamarkan identitas. Bahkan pakai Facebook Pixel ID dan Tiktok Pixel ID untuk melacak efektivitas situs scam mereka," ujar Alfons, Kamis lalu.
Dia menilai langkah Polri ini penting untuk menjaga ekosistem digital kita. Soalnya, modus penipuan sekarang terus berkembang dengan cepat dan canggih.
"Ini harus jadi perhatian serius penegak hukum. Kejahatan digital sudah masif, korbannya banyak sekali, dan yang parah, merusak kepercayaan publik terhadap dunia digital," tegasnya.
Padahal, menurut Alfons, digitalisasi punya peran krusial buat perekonomian. Kalau penipuan merajalela, masyarakat jadi takut dan enggan bertransaksi online. Alhasil, perkembangan digital Indonesia bisa terhambat.
Artikel Terkait
Hakim Tolak Tuntutan Kerugian Negara Rp171 Triliun, 9 Terdakwa Kasus Mafia Minyak Divonis Penjara
Kepala BGN Tegaskan Insentif Rp 6 Juta per Hari Bukan Dana APBN, Sebut Skema Mitra Lebih Efisien
Pemkot Jayapura Batasi Jam Operasional Miras dan Hiburan Malam Selama Ramadan
Pohon Tumbang di Jalan Sudirman Pagi Ini, Lalu Lintas Menuju Bundaran HI Macet Parah