Terutama, lanjut Ali, ketika rasa lelah menghadapi kerja-kerja politik mulai muncul. "Jadikan ulama dan kiai sebagai guru."
Di sisi lain, Ali juga menekankan satu hal yang ia anggap krusial. Dalam pandangannya, ulama harus tetap menjadi rujukan utama agar tidak terjadi perbedaan tafsir yang ujung-ujungnya malah bikin gaduh. Namun begitu, ia mengingatkan agar garis itu tidak sampai kabur.
"Jangan pernah kiai dan pondok pesantren dijadikan alat politik," katanya dengan nada tegas. Baginya, tujuan memenangkan partai tidak boleh menunggangi institusi yang seharusnya menjadi mercusuar ilmu dan akhlak.
Secara keseluruhan, kunjungan ke Abuya Muhtadi dan Ponpes Fathul Ma'ani ini menjadi pembuka rangkaian safari Ramadan PSI. Sebuah langkah awal yang sarat dengan nuansa silaturahmi dan, tentu saja, pembelajaran.
Artikel Terkait
Prabowo dan Putin Bahas Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia di Kremlin
Mantan Hakim Konstitusi Anwar Usman Pingsan di Acara Purnabaktinya
Konektivitas Jalan Nasional dan Tol Terjaga Saat Mudik 2026, Kesenjangan di Kawasan Timur Jadi Tantangan
Kecelakaan Maut di Jalan Bomang, Satu Pengendara Motor Tewas