Ketua Komisi X DPR Soroti Penyerangan Mahasiswi di UIN Suska Riau

- Jumat, 27 Februari 2026 | 04:00 WIB
Ketua Komisi X DPR Soroti Penyerangan Mahasiswi di UIN Suska Riau

"Awalnya kami belajar biasa aja. Tiba-tiba ada keributan," cerita Dimas, menggambarkan kepanikan yang terjadi.

"Waktu lihat ke luar, pelaku sudah membacok korban di depan ruangan. Kami nggak berani mendekat soalnya dia bawa kapak."

Petugas keamanan kampus konon langsung bergerak. Mereka berusaha mencegah ayunan berikutnya dari pelaku. Situasi yang mencekam itu akhirnya mereda setelah pelaku berhasil diamankan.

Kasatreskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah, membenarkan bahwa pelaku sudah ditahan di Polsek Binawidya. Barang bukti berupa kapak dan parang juga disita. Motif dan kronologi lengkapnya masih didalami polisi, termasuk kemungkinan apakah serangan ini direncanakan sebelumnya.

Korban sendiri sekarang dirawat intensif di RS Bhayangkara Pekanbaru. Lukanya cukup dalam, di bagian kepala dan tangan. Tim medis bertindak cepat untuk cegah komplikasi, dan rencananya korban akan dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap.

Dugaan sementara, ini masalah pribadi antara pelaku dan korban. Tapi polisi masih membuka semua kemungkinan. Penyidikan masih terus berjalan.

Di luar proses hukum, peristiwa ini bikin banyak orang merenung. Soal pentingnya deteksi dini potensi kekerasan di kampus. Selain regulasi, perlu juga layanan konseling yang proaktif, literasi kesehatan mental, dan mekanisme pelaporan yang mudah diakses serta aman bagi pelapor.

Bagi Hetifah, tragedi ini harus jadi momentum evaluasi total sistem keamanan kampus. Pencegahan, katanya, jauh lebih penting daripada sekadar menindak setelah kejadian. Pengawasan internal, kapasitas satpam, dan budaya penyelesaian konflik secara damai harus diperkuat.

"Kita nggak mau ada lagi mahasiswa yang jadi korban kekerasan di tempat belajar," tegas Hetifah.

"Kampus harus jadi ruang yang inklusif, aman, dan mendukung pertumbuhan mereka."

Kasus di UIN Suska Riau ini ibarat alarm yang berbunyi keras untuk semua perguruan tinggi di Indonesia. Keamanan bukan cuma urusan teknis semata, tapi bagian penting dari tata kelola pendidikan. Sinergi antara kampus, aparat, pemerintah, dan masyarakatlah kuncinya. Agar tragedi seperti ini tidak terulang lagi.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar