Namun begitu, tidak semua orang memilih strategi seperti Ina. Bagi Silvi, yang juga 22 tahun dan sudah tiga tahun menjadi komuter rute Cikini-Kalideres, berbuka di stasiun adalah pilihan yang jauh lebih masuk akal. Ia sudah cukup sering melakukannya, biasanya di Manggarai atau Duri.
"Daripada buka di kereta cuma minum doang, mendingan duduk dulu. Lapar soalnya,"
kata Silvi sambil menyantap takjilnya dengan tenang. Ada perbedaan nuansa yang jelas antara ia yang duduk di bangku stasiun dan mereka yang terburu-buru di dalam kereta.
Hari itu, 'amunisi' Silvi terbilang lengkap. Ia tak cuma bawa bekal dari rumah seperti bihun dan lontong. Sebelum naik kereta, ia sempatkan berburu gorengan hangat dan satu porsi kebab di area stasiun. "Biar nggak lemas di jalan," tuturnya. Sebuah persiapan logistik kecil untuk menghadapi sisa perjalanan yang melelahkan.
Meski jauh dari orang tua dan suasana rumah, Silvi mengaku tetap bisa menikmati momen buka puasanya. Baginya, yang utama adalah energi tetap terisi. Agar kuat menghadapi kepadatan Jakarta dan akhirnya bisa sampai di rumah dengan selamat. Di sisi lain, pengalaman Ina dan Silvi ini cuma dua dari sekian banyak cerita para pejuang rupiah yang berpuasa. Mereka beradaptasi, menemukan caranya sendiri, di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tak pernah benar-benar berhenti.
Artikel Terkait
Kritik Pengangkatan Nuryanti di Kemnaker, Rekam Jejak Kinerja Dipertanyakan
Angin Kencang Porak-Porandakan Peternakan Ayam di Pati, Kerugian Capai Miliaran
AHY Bagikan Sembako ke Jemaat Gereja, Dana dari Lelang Lukisan SBY
Pemerintah Tetapkan 16 Hari Libur Nasional dan 6 Cuti Bersama untuk Tahun 2026