Rabu sore kemarin, suasana di Rupattama Mabes Polri di Jakarta Selatan cukup hangat. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berbuka puasa bersama sejumlah insan media. Dalam kesempatan itu, ia tak cuma sekadar bersilaturahmi. Sigit secara khusus menegaskan, Polri memandang media massa sebagai mitra strategis yang punya peran krusial.
“Kami menyadari bahwa media memiliki peran yang sangat luar biasa untuk turut menjaga stabilitas keamanan nasional,” ujar Sigit dalam sambutannya.
“Oleh karena itu, kami memandang media adalah mitra sangat strategis buat institusi Polri.”
Nada bicaranya terbuka. Ia memastikan Polri sangat menghargai fungsi pers sebagai alat kontrol sosial. Karena itu, ia meminta media tak sungkan untuk memberikan kritik dan masukan apa saja. Menurutnya, suara media pada hakikatnya adalah suara publik yang harus didengarkan.
“Polri akan terus bersama teman-teman media sebagai alat kontrol, sebagai alat kritik, namun di satu sisi juga sebagai sumber pencerah bagi kita semua,” ungkapnya.
Pesan itu tak berhenti di situ. Sigit langsung menginstruksikan seluruh jajarannya agar peka dan responsif terhadap pemberitaan. Sekecil apapun informasi yang muncul, seringkali itu adalah jeritan atau keluhan masyarakat yang butuh tindak lanjut segera.
“Tolong seluruh jajaran yang ada, bahwa sekecil apapun suara dari teman-teman media, itu adalah jeritan dari masyarakat. Mau tidak mau kita harus melakukan langkah cepat, respons cepat untuk menanggapi,” tegasnya.
Namun begitu, Sigit juga menyoroti tantangan zaman sekarang. Perkembangan teknologi seperti AI dan deepfake, menurutnya, membawa dampak luar biasa. Bahaya misinformasi dan disinformasi bisa memecah belah. Di sinilah peran media jadi kian vital.
Artikel Terkait
LPDP Masih Hitung Jumlah Pengembalian Dana Beasiswa dari Alumni yang Viral
SIM Keliling Kembali Beroperasi di Lima Titik Jakarta untuk Perpanjang SIM A dan C
Kartu Merah VAR untuk Kelly Picu Kekalahan Juventus di Liga Champions
Inisiator Papua Connection Kecam Serangan KKB terhadap Guru dan Tenaga Kesehatan sebagai Teror Kemanusiaan