“Memang orang bilang atmosfer All England itu angker,” akunya.
“Tapi apa pun itu, saya rasa ini pengalaman yang baik untuk dia. Jangan terbebani stigma. Nikmati saja prosesnya.”
Menurut Indra, menghadapi tekanan di panggung besar seperti inilah yang membentuk mental seorang atlet elite. Itu adalah bagian dari proses pembelajaran yang tak ternilai. Di sisi lain, persiapan teknis juga tak boleh luput. Adaptasi dengan cuaca Inggris yang dingin dan perbedaan waktu jelas bukan hal sepele. Dengan mini training camp ini, para pemain punya kesempatan untuk menyesuaikan kondisi fisik sebelum benar-benar terjun ke lapangan.
Dari 20 atlet pelatnas yang dijadwalkan tampil, hampir semuanya mengikuti program ini. Hanya pasangan ganda putri, Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Amallia Cahaya Pratiwi, yang absen karena masih bertanding di German Open.
Pada akhirnya, bagi Indra, persiapan yang matang adalah fondasi segalanya. Hasil tentu penting. Tapi pengalaman merasakan langsung denyut nadi turnamen bergengsi seperti All England, itu sendiri sudah merupakan modal berharga untuk masa depan – khususnya bagi tunggal putra Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Tahuna, Sangihe Dini Hari
Tiket Mudik Lebaran Diskon 30% di Daop 9 Jember Hampir Habis
Anak Kandung Diduga Curi Motor Ayahnya di Tanggamus
Gubernur Papua Barat Daya Serahkan Tiga Puskesmas Keliling Air untuk Jangkau Daerah Kepulauan