Konflik Digital SEAblings vs KNetz Jadi Alarm Bagi Soft Power Korea

- Selasa, 24 Februari 2026 | 15:30 WIB
Konflik Digital SEAblings vs KNetz Jadi Alarm Bagi Soft Power Korea

Fitria Ayuningtyas
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Awal 2026 diwarnai oleh salah satu konflik digital paling panas: bentrokan antara SEAblings dan KNetz. Ini bukan cuma perang komentar biasa. Lebih dari itu, ia memperlihatkan betapa rapuhnya interaksi kita di ruang online, terutama ketika menyangkut sensitivitas budaya. Memang, hubungan Korea Selatan dan Asia Tenggara makin mesra berkat gelombang budaya pop. Tapi kedekatan itu rupanya tak serta-merta menghilangkan jurang pemahaman.

Perbedaan konteks dan etika berkomunikasi seringkali terabaikan. Gesekan kecil pun bisa membesar. Nah, kasus inilah buktinya sebuah percikan yang berubah jadi konflik geopolitik digital begitu sentimen identitas kolektif tersentuh.

Buat Indonesia, ini momen penting untuk dicermati. Dinamika netizen regional ternyata bisa membentuk persepsi global terhadap sebuah negara. Bahkan, berpotensi memengaruhi hubungan budaya kita dengan Korea Selatan yang selama ini terlihat sangat akrab.

Lalu, siapa sebenarnya SEAblings dan KNetz?

KNetz sudah lama dikenal sebagai sebutan untuk netizen Korea Selatan. Sementara SEAblings adalah istilah baru yang justru lahir dari konflik ini. Gabungan dari “SEA” (Asia Tenggara) dan “siblings”, ia melambangkan solidaritas digital netizen kawasan yang bersatu setelah merasa direndahkan oleh sebagian komentar dari Korea.

Di permukaan, ini terlihat seperti keributan media sosial biasa. Tapi kalau ditelaah, konflik ini menunjukkan kegagalan memahami budaya, benturan identitas, dan pola eskalasi krisis yang khas. Mirip dengan yang dijelaskan dalam teori komunikasi krisis modern.

Bagaimana semua ini bisa mulai?

Pemicunya terlihat sepele: sebuah insiden di konser DAY6 di Kuala Lumpur akhir Januari 2026. Beberapa fansite Korea membawa kamera profesional yang melanggar aturan venue. Penonton lokal menegur, dan video kejadiannya pun viral.

Respons sejumlah KNetz kemudian memicu eskalasi. Beberapa komentar tak hanya membela fansite, tapi juga menyentuh hal-hal sensitif seperti budaya, ekonomi, bahkan fisik warga Asia Tenggara. Di sinilah semuanya berubah.

Begitu identitas kolektif dihina, responsnya bukan lagi individual. Ia berubah jadi kemarahan bersama yang sulit dikendalikan. Netizen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, hingga Vietnam pun bersatu membentuk front digital “SEAblings”. Solidaritas regional meledak.

Dimensi krisisnya pun bergeser. Ini bukan lagi soal musik atau aturan konser, tapi sudah menyentuh harga diri dan identitas. Dari kacamata komunikasi krisis, ada beberapa titik kegagalan yang mencolok.

Pertama, pemahaman konteks budaya yang minim. Apa yang bagi sebagian KNetz dianggap pembelaan terhadap budaya fandom, bagi netizen Asia Tenggara dirasakan sebagai serangan terhadap martabat mereka. Risikonya besar ketika sebuah kelompok berbicara tanpa mengerti sensitivitas pihak lain.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar