MURIANETWORK.COM - Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, menghadiri pertemuan tertutup bersama para pemimpin global dalam rangkaian Forum Bloomberg New Economy 2026 di India. Dalam forum yang dihadiri sejumlah tokoh seperti mantan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak itu, Jokowi menyampaikan pandangannya mengenai kedaulatan kecerdasan buatan (AI) dan strategi yang realistis bagi negara berkembang.
Strategi AI: Fokus pada Aplikasi, Bukan Hanya Infrastruktur
Dalam diskusi yang mengangkat tema kedaulatan teknologi, Jokowi mengakui kompleksitas dan tantangan besar yang dihadapi untuk membangun ekosistem AI mandiri dari nol. Menurutnya, pengembangan model dan infrastruktur dasar memerlukan komitmen jangka panjang dengan investasi raksasa serta akses ke sumber daya manusia yang sangat canggih.
Namun, ia menawarkan perspektif yang lebih pragmatis. Alih-alih berkutat pada persaingan di level infrastruktur yang terus berubah, Jokowi menilai ada peluang strategis di tingkat penerapan.
"Kita sendiri, baik itu modelnya maupun infrastrukturnya, membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan investasi besar serta sumber daya yang sangat canggih dan maju. Namun, jika kita berfokus pada aplikasi AI, kita bisa bergerak lebih cepat, apalagi karena saat ini teknologi AI terus berubah," ujarnya.
Menjalankan Tugas Diplomasi di Tengah Ibadah Puasa
Uniknya, agenda pertemuan pagi itu berlangsung saat Presiden Jokowi sedang menjalankan ibadah puasa. Situasi ini menunjukkan dinamika seorang pemimpin yang tetap menjalankan kewajiban diplomatik internasional sembari menjaga komitmen spiritualnya.
Hal ini diungkapkan oleh ajudannya, AKBP Syarif Fitriansyah, yang mendampingi Presiden selama acara.
"Di tengah keadaan berpuasa, Bapak Joko Widodo menghadiri acara private breakfast yang diadakan oleh Bloomberg New Economy Forum," jelas Syarif Fitriansyah.
Kehadiran Jokowi dalam forum bergengsi ini bukan sekadar partisipasi seremonial. Pandangannya tentang AI mencerminkan pemahaman mendalam atas peta kekuatan teknologi global dan upaya mencari celah strategis bagi Indonesia. Pendekatan yang ia sampaikan berangkat dari realitas kapasitas nasional, menekankan kecepatan dan adaptasi dalam memanfaatkan teknologi yang sudah ada untuk menyelesaikan masalah konkret di tingkat aplikasi.
Artikel Terkait
ART di Bogor Dilaporkan Dianiaya Majikan hingga Luka-luka
Ledakan Petasan Ilegal di Situbondo Tewaskan Satu Warga dan Rusak Belasan Rumah
Meal Prep Sahur: Solusi Praktis Penuhi Nutrisi di Bulan Ramadan
DPR Susun Aturan Pembatasan Akses Digital untuk Anak Usia Sekolah