Pagi ini, IHSG buka di zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan tercatat melemah tipis 0,11 persen, berada di level 8.268 sesaat setelah bel perdagangan Jumat (20/2/2026) dibunyikan. Suasana hati pasar terlihat masih gamang.
Tak sendirian, indeks-indeks unggulan juga ikut merosot. LQ45 turun 0,06 persen ke 834. Sementara itu, indeks JII yang berisi saham syariah justru mengalami tekanan lebih dalam, anjlok 0,67 persen ke posisi 562.
Beberapa saham jadi penahan laju pelemahan, di antaranya SMGR, MEDC, dan UNTR. AMRT, MDKA, serta BBRI juga mencoba bertahan. Namun begitu, tekanan jual tetap terasa pada saham-saham seperti JPFA, BRPT, dan MBMA yang catatannya berwarna merah.
Kondisi ini seolah melanjutkan tren kemarin. Pada penutupan perdagangan Kamis, IHSG sudah lebih dulu melemah 0,43 persen ke level 8.274,08. LQ45 dan IDX30 pun tak berkutik, masing-masing turun 0,51 persen dan 0,34 persen.
Tekanan terbesar kemarin datang dari sektor keuangan dan perbankan. Indeks finansial anjlok 1,03 persen, sementara perbankan terkapar dengan penurunan hingga 1,74 persen. Sektor teknologi ikut terseret, terkoreksi 1,16 persen.
Namun, tidak semua sektor suram. Ada cahaya dari sektor material dasar yang melonjak cukup tajam, 2,85 persen. Sektor transportasi juga naik 1,92 persen, diikuti energi yang menguat 0,82 persen seiring sentimen positif dari harga minyak dunia.
Di pasar valas, rupiah terpantau relatif stabil. Mata uang kita ditutup di Rp16.894 per dolar AS, dengan kurs Jisdor berada di Rp16.925. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun sedikit membaik, turun ke 6,41 persen. Premi risiko Indonesia yang diukur dari CDS 5 tahun berada di 81,75 bps angka yang menunjukkan persepsi risiko masih bisa dikendalikan.
Wall Street Ikut Lesu
Sentimen global ternyata juga tidak mendukung. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Kamis waktu setempat. Dow Jones terpangkas 267,5 poin (0,54%) ke 49.395. S&P 500 turun 0,28% ke 6.862, dan Nasdaq melemah 0,31% ke 22.683.
Kekhawatiran investor AS berlapis. Selain waswas dengan dinamika ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, ada juga kehati-hatian ekstra terhadap sektor private credit. Banyak yang khawatir, sektor ini bisa jadi sumber masalah likuiditas jika kondisi ekonomi memburuk.
Eropa Terimbas, Asia Bervariasi
Gelombang pelemahan dari AS langsung menjalar ke Eropa. FTSE 100 Inggris turun 0,55%, DAX Jerman anjlok 0,93%, dan CAC 40 Prancis melemah 0,36%.
Nasib berbeda dialami bursa Asia yang tampak lebih berwarna. Nikkei 225 Jepang justru menguat 0,57% ke 57.467. Sementara itu, bursa Hong Kong dan Shanghai cenderung datar, tidak menunjukkan pergerakan berarti.
Di tengah ketegangan geopolitik, komoditas justru bersinar. Harga minyak mentah WTI naik 2,14% ke USD66,43 per barel, Brent menguat 1,98% ke USD71,57. Emas juga ikut merangkak naik; emas Comex bertambah 0,33% ke USD5.017,20.
Imbal hasil obligasi AS cenderung turun tipis, dengan yield 10 tahun di kisaran 4,07%. Indeks dolar AS sendiri menguat tipis 0,23% ke 97,92. Secara keseluruhan, pasar global masih dalam mode menunggu dan mengamati menimbang segala risiko dari geopolitik hingga likuiditas.
Artikel Terkait
Banjir 70 Sentimeter Rendam Pondok Karya, Warga Rentan Dievakuasi
Loggis Gandeng HD Hyundai Distribusikan Alat Berat Ramah Lingkungan DEVELON
Ketua Satgas PRR Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Timur
Muhaimin Iskandar Lantik Pimpinan Baru BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan