Davos 2026. Di tengah pegunungan Alpen yang dingin, para pemimpin dunia berkumpul lagi dalam forum World Economic Forum. Suasananya selalu sama: campuran euforia dan kecemasan. Di satu sisi, obrolan penuh semangat tentang lompatan teknologi, terutama AI, yang dianggap sebagai janji masa depan. Namun begitu, di sisi lain, kegelisahan global justru terasa makin nyata. Mulai dari ketidakpastian lapangan kerja, ketegangan geopolitik yang tak kunjung reda, hingga krisis iklim yang mengancam. Di balik semua diskusi mewah itu, ada satu pertanyaan sederhana yang menggelitik: sudah siapkah sistem pendidikan kita menghadapi gelombang perubahan sebesar ini?
Jawabannya, rupanya, tidak sederhana. Dari berbagai sesi di Davos, muncul satu kesadaran penting. Masa depan ternyata tidak cuma ditentukan oleh secanggih apa teknologi kita. Yang lebih krusial adalah kualitas manusia yang akan mengendalikannya. Pendidikan, dalam hal ini, bukan sekadar urusan kurikulum atau mengejar serapan kerja. Ia adalah fondasi peradaban itu sendiri di tengah dunia yang serba tak pasti.
Tantangannya pun jadi lebih berat. Bukan cuma soal mencetak tenaga terampil untuk memenuhi kebutuhan industri. Lebih dari itu, kita perlu membentuk manusia utuh. Manusia yang punya kemampuan berpikir jernih, beretika, dan punya keteguhan untuk menjaga martabat bangsanya sendiri di tengah pusaran global.
Nah, di sinilah pentingnya kolaborasi. Pendidikan akademik dan vokasi harus berjalan beriringan, saling isi. Kedalaman nalar dari kampus akademik perlu diimbangi dengan ketangkasan praktik dari vokasi. Tujuannya satu: melahirkan insan yang bukan cuma profesional, tapi juga bisa berkarya nyata dan bersaing di kancah internasional.
Paradoks yang Menjebak
Yang menarik, ada beberapa paradoks yang mencolok. Pertama, pendidikan selalu dielu-elukan sebagai kunci kemajuan. Tapi dalam praktik kebijakan dan anggaran, ia seringkali bukan prioritas utama. Dibicarakan dengan lantang di setiap pidato, tapi kemudian membisu ketika sampai pada keputusan fiskal. Disebut-sebut sebagai investasi strategis jangka panjang, namun mudah tersisih oleh kepentingan politik yang hasilnya ingin cepat terlihat.
Paradoks kedua terasa dalam kebijakan sosial. Pemerintah bergerak cepat menyediakan program makan gratis, yang memang penting untuk urusan perut. Tapi, gerakannya terasa lambat ketika harus memperkuat pendidikan gratis untuk masa depan. Memang, asupan gizi itu mendesak. Tapi jangan lupa, asupan nalar dan ilmu pengetahuan tak kalah pentingnya. Tanpa perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan yang serius, upaya memutus mata rantai kemiskinan akan selalu timpang. Mengatasi dampak tanpa menyentuh akar persoalan hanya akan menunda masalah untuk generasi berikutnya.
Lalu, paradoks ketiga. Di Davos, ada rencana ambisius membangun 10 universitas baru. Padahal, fakta di lapangan berkata lain. Banyak perguruan tinggi yang justru menghadapi kelebihan kapasitas, kekurangan mahasiswa, dan isu penurunan kualitas. Indonesia sudah punya lebih dari 4.000 perguruan tinggi, lho. Dalam kondisi seperti ini, mendorong penambahan institusi baru justru berisiko. Agenda konsolidasi dan penguatan mutu yang seharusnya jadi prioritas, malah bisa terabaikan. Daya saing bangsa ini seharusnya bertumpu pada kedalaman pengetahuan, bukan sekadar jumlah kampus.
Belum selesai di situ. Paradoks keempat muncul dari tuntutan yang diberikan kepada kampus. Mereka diminta menghasilkan riset berdampak dan solusi untuk masalah sosial. Tapi, dukungan ekosistemnya? Seringkali belum memadai. Pendanaan terbatas, beban administratif menumpuk, dan proses hilirisasi inovasi berjalan lambat. Ibaratnya, perguruan tinggi diminta berlari kencang, tapi di lintasan yang belum rata. Riset diharapkan menjadi lokomotif perubahan, namun bahan bakarnya sendiri serba terbatas.
Artikel Terkait
Supplier MBG Kendal Demo, Tagihan Rp141 Juta Tak Dibayar Koperasi
Wamenristek Sebut Harga Listrik Panas Bumi Masih Lebih Mahal dari Batu Bara
LBH Cianjur Serahkan Data Tambahan ke KPK untuk Laporan Jual-Beli Jabatan
Don Lee Ucapkan Terima Kasih ke Pemprov DKI atas Dukungan Syuting Film Extraction: Tygo